BIOGRAFI 1 : LELENGKAH HALU

Posted on October 31st, 2008 in OTOBIOGRAFI by aandry-neney

DILAHIRKAN DALAM KELUARGA BROKEN HOME

Namaku Andri Hardiansyah, nama ini merupakan pemberian papaku(ayahanda) yang awal mulanyaAan Hardian nama yang ditawarkan kakekku,namun ayahku menggantinya dengan nama Andri Hardiansyah, dan pada akhirnya tanpa perdebatan kakek serta papaku setuju nama tersebut disandang oleh diriku. Secara lengkap diriku tidak begitu hafalnasab dari mama atau papaku. Nasab dari mamaku Elly Harnellyyaitu H. Iyon Taryana (alm) asal atasikmalaya dan Hj.Rochaeni BAIDHAWI asal Soreang Kab. Bandung, sedangkan nasab dari papaku Undang Suryana yaitu Hj. Siti Khadijah (alm) dan H. Abdullah (alm) asal Limbangan garut. Jika memperhatikan wajahku, banyak orang menilaiku berasal dari keturunan arab, aku tidak memungkirinya, pasalnya nenek dari mama bemarga badhawie namun marga ini tidak dapat turun jika dibawa oleh perempuan seperti halnya marga keturunan arab lainnya seperti Sungkar, fuad, assegaf, al-juffry dan lain sebagainya. Papaku Undang, berasal dari daerah Limbangan Garut. Beliau seorang pedagang es balok yang dapat ditemui dibelakang Puskesmas Limbangan, persis di pinggir jalan kearah Cibiuk dan Cijapati. awalnya dia tinggal di Tangerang namun tak kuasa menghadapi hantaman krisis ekonomi tahun 97 –an lalu berpindah dan menetap di Limbangan. Bertempat di rumah sakit Ranca Badak (RSHS)Bandung aku dilahirkan pada tanggal 23 Oktober 1983, pada tahun itu pula saudara kembarku Fulan wafat ketika dilahirkan, sehingga sampai saat ini aku termasuk salah satuanak yang selalu dimanja oleh ibunya, karena mamaku berpikir jika tidak saudara kembarku mungkin aku yang wafat pada waktu itu.Nasib yang kurang mujur telah kualami sejak berumur empat tahun, mama dan papaku harus bercerai dan aku terpaksa dibawa mamaku ke Bandung dan berbaur dengan kakek dan neneku yang tengah menikmati kejayaannya sebagai pedagang daging kambing di Pasar Baru Bandung, lalu ketika berumur 7 tahun, mamaku yang saat itu single parent berusia 24 tahun khawatir akan masa depanku menjadi suram kelak, mulai memperhatikan pendidikanku. Pada saat itu aku di daftarkan di TK Assalaam yang dirintis oleh ulama NU ternama Habib Ustman Al-Aydarus di kawasan Sasak gantung Bandung. Dengan berprofesi musiman sebagai seorang perias pengantin, Sinden siraman penikahan, bahkan mamaku rela menjadi seorang penari jaipongan demi membiayai aku sekolah, dengan profesi yang dijalaninya Alhamdulillah mamaku mampu meneruskan pendidikanku ke tingkat SD di Yayasan pendidikan yang sama dengan TK-ku dulu, di SD assalaam aku termasuk siswa yang aktif, sejak kelas empat, aku sudah aktif di pasukan pengkibar bendera, dan selalu dijadikan pemimpin upacara karena suaraku yang terbilang lantang dan keras,kendatipun aktif dan jam belajar selalu terganggu namun prestasikudi kelas selalu aku perhatikan, saat itu peringkat yang tertera di raporku tidak pernah melebihi dua digit angka. Atas prestasi yang kuraih, aku mendapatakan beasiswa gratis SPP dari kelas empat hingga kelas enam, bahkan aku sempat menjadi wakil SD-ku untuk menjadi wakil seleksi siswa teladan se-kota Bandung, bersama 4 temanku yang lainnya. Namun karena persiapan yang kurang matang, diriku gagal di seleksi tingkat kecamatan.

PESANTREN MENDIDIK HIDUP MADIRI DAN PRIHATIN

Pertumbuhan dan pengembaraanku mencari ilmu ternyata difokuskan mamaku untuk mendalami ilmu agama, mamaku khawatir kelak aku terjerumus kepada kebathilan, aku di daftarkan ke Pontren Al-Qur’an Al-falah Cicalengka selain mengenyam pendidikan Madrasah Tsanawiyah, aku pun menjadi santri mukim disana, banyak hal yang aku dapatkan di kota santri tersebut, dari mulai mendalami ilmu agama, pengalam berorganisasihingga urusan asmara. Seminggu di Al-falah aku masih belum bias beradaptasi dengan pola hidup disana, betapa tidak aku harus merelakan hati untuk mengurangi waktu tidurku. Biasanya aku bangun ketika matahari tengah terasa hangat di kulit, namun disana aku harussekitar jam 3 subuh pengurus pesantren kerap kali membangunkanku dengan suara-suaranya yang lantang, jika tidak bangun pukulan rotan pun biasa melayang ke kakiku, maka tak ayal dengan terpaksa rasa kantuk pun aku hadapi, tidak hanya itu, untuk urusan makannampaknya aku pun harus bersabar, pasalnya untuk urusan makan saja akuharus mengantri di dapur umum. Begitu pula untuk urusan mandi mencuci pakaian terlebih untuk urusan buang hajat. Tapi seiring berjalannya waktu kusadari bahwa hal tersebut sudah menjadi bagian dari hidup seorang santri yang hikmahnya menanamkan sikap disiplin serta mendidik diri untuk hidup prihatin.Sepertihalnya lingkungan pesantren pada umumnya, Asatidz di pesantren mendidik santrinya dengan keras sekali. Meskipun terkadang merasa bahwa kekerasan itu berlebihan, tetapi secara keseluruhan aku berterima kasih kepada asatidz yang telah mendidik saya dengan cara yang sangat keras, bahkan terkadang militeristik. Salah satu didikan penting yang saya peroleh dari asatidz di Al-falah adalah di bidang membaca Al-qur’an. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren yang memiliki keahlian lebih di bidang ini. Kitab dasar yang saya pelajari duluberjenjang, mulai dari hidayatushibyan, hidayatul mustafid, dan jazariyyah. Itu adalah teks klasik standar yang dipelajari santri-santri di bidang Al-qur’an. Alqur’an memiliki tata cara membaca yang rumitnya mungkin sama atau malah melebihi bahasa Latin. Didikan yang keras di bidang Al-qur’an dari asatidz di pesantren ini meninggalkan bekas penting pada diri saya, yakni disiplin dalam berpikir dan cermat dalam membaca Al-qur’an. Karena didikan itu pula saya memiliki kecintaan yang mendalam pada Al-qur’an. Semula tentu saya hanya mencintai Al-qur’an, sebab Al-qur’an itulah yang pertama kali diajarkan secara sistematis dan “ilmiah” di pesantren Al-falah.

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

Hawa-hawa pubertas nampaknya sudah meraksuk kedalam hatiku, sehingga perasaan untuk mencintai seorang wanita pun tak bisa tertahankan, walaupun terbilang berusia dini untuk puber, tapi pada waktu itu aku sudah terkesan dengan kecantikan Rani nurhayati santri putri asal cibuntu bandung, nampaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, awal aku jumpa dengannya di sekretariat pesantren, dia tersenyum kepadaku, aku jadi terpanah asmara, ingin aku katakan bahwa aku mencintainya, hanya dirinya yang aku suka, hanya bayangan wajahnya yang selalu ku ingat, tak kuasa kumenahan gejolak di dalam dada hingga aku sangat terpesona kepada pandangan pertama, hatiku pun bertanya-tanya inikah yang dinamakan jatuh cinta? betapa indahnya ingin rasanya begini tuk selamanya.
setelah itu hari- hari ku selalu ceria, dan aku selalu merindukannya di setiap saat. Jika tidak berjumpa dengannya perasaan ku selalu gelisah,
saat itu kenapa perasaan cintaku kepadanya begitu besar sekali, padahal sebelumnya perasaanku belum begitu tertarik kepada seorang perempuan. Namun gadis yang satu ini nampaknya beda, hatiku begitu tertambat kepadanya, betapa tidak badannya yang tinggi semampai, alisnya yang indah berbentuk walaupun tidak di ukir dengan silet, pipinya yang kemerahan dan berlesung. Aku yakin hanya laki-laki yang kurang normal jika tidak punya perasaan sama sekali kepadanya.

CINTA DAPAT MENEMBUS SEGALA RUANG

Ketertarikanku pada Rani terus berlanjut, namun aku bingung bagaimana cara menyatakan cinta kepadanya?, jangankan menyatakan cinta, untuk mendekatinya pun sangat sulit, maklum…. Pergaulan antara santri putra dengan santri putri sangat dibatasi, seperti halnya untuk lingkungan asrama saja sudah terpisah, begitu pula jika pengajian atau sekolah. Tapi lambat laun ku m
encari media yang aman untuk berkomunikasi dengan tanpa melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan oleh pengasuh pesantren. Saat itu aku mencoba mencari beberapa santri senior yang nota bene dikenal mempunyai pasangan di asrama putri, menurut gossip yang beredar mereka biasa memadu kasih dengan pasangannya lewat surat, aku pun berkonsultasi dengan para senior untuk meminta wejangan bercinta dari mereka, dengan senang hati mereka pun memberikan beberapa trik agar surat cinta dapat sampai kepada sang pujaan hati. Aku pun mencoba menjalankan apa yang telah mereka sarankan, kucoba menulis untaian kata-kata manis diatas beberapa lembar kertas khusus untuk menulis surat cinta yang sengaja aku beli di toko buku yang berada di seputaran pasar cicalengka, sepucuk surat cinta yang aku tulis aku kirimkan lewat mak comblang yang biasa membuka jalur komunikasi balada cinta senior-seniorku di Pesantren, kegiatan ini pun berlangsung beberapa kali dengan mak comblang yang sama, sesekali terpikirkan olehku untuk memberikan semacam imbalan kepada mak comblang atas beberapa surat yang diantarkan maupun surat balasan, namun diluar dugaan dia menolak, mungkin dia menyadari Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain. Aku pun mengakui jika kebiasaan yang telak kulakukantelah aku dobrak. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi hukum agama yang begitu fanatik tentang pergaulan masih kental sampai sekarang, bahkan beberapa kyai mengharamkan saling mengirimkan surat cinta sesama santri, karena merekamenilai bercinta dengan saling menyurati zina mutlak, karena memainkan emosi jiwa kedua pasangan diluar nikah untuk “berimajinasi”.

Salah satu hal tidak pernah lupa, hanya dengan beberapa surat cinta yang aku kirimkan kepada Rani, semua dibalas dengan kata-kata yang menunjukan bahwa dirinya mempunyai perasaan yang sama seperti halnya perasaanku kepadanya, interaksi cinta seperti ini terus aku jalani, hingga pada pertengahan tahun ‘98 aku dan rani resmi berpacaran, saat itu aku memberanikan diri tuk berkunjung kerumahnya saat masa liburan tiba, aku pun menyatakan cinta kepadanya, dengan senyuman yang manis dirinya mengatakan iya sebagai tanda menerima cintaku. Masa liburpun telah usai, maka otomatis peraturan pesantren pun kembalimembatasiku untuk bercengkrama dengan dirinya. Tapi itu bukan hambatan yang begitu hebat untuk menjegalhubunganku dengannya, pasalnya aku dan Rani sama-sama aktif di OSIS, walaupun berbeda seksi tetapi aku sering mendapatkan kesempatan untuk bercengkrama ria melepas rasa rindu dengannya, jika ada rapat atau kegiatan yangdigelar, itupun dengan sembunyi – sembunyi atau ditemani teman OSIS yang lain agar para pengurus tidak curiga.

TATKALA CINTA MENJADI MOTIVASI

Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah dan fitrah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyayangi. Karena cintalah umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai. Banyak teori cinta yang aku rasakan, seperti halnya indikator cinta, seseorang tidak bisa dikatakan mencintai jika tidak didasari beberapa hal; cinta harus didasari perasaan memiliki kepada yang dicintainya, cinta harus didasari perasaan kagum atau bangga, cinta harus didasari perasaan rela berkorban, namun hati-hati jika indikator cinta tersebut berlebihan maka akan menjadi nafsu yang menyesatkan, karena menurut sahabatku Aji batasan cinta dengan nafsu sangatlah tipis. Tapi jika kita mampu memenejnya indikator tersebut dapat menjadi suatu motivasi. Misalnya didorong oleh rasa cinta, seorang Ibu termotivasi untuk kuat mengandung sang calon anak selama 9 bulan 10 hari. Didasari rasa cinta. Dipupuk oleh rasa cinta pula, seorang anak sangat termotivasi untuk menyelesaikan gelar sarjana guna membahagiakan kedua orang tuanya. Begitu pula diriku saat itu, karena didorong dengan perasaan cinta aku termasuk santri yang cukup rajin, sebelum santri yang lain tiba (untuk melaksanakan sholat) aku datang lebih awal, jika pengajian gabungan antara santri putra dan putri digelar, dengan sigapnya aku mempersiapkan perangkat pengajian, begitu pula jika patrol (keja bakti) bersama hari ahad dilaksanakann pasti aku yang paling sibuk menggulung karpet masjid, membuka tirai kemudian mencucinya. Tidak terlepas dari nilai-nilai keikhlasan aku lakukan semua itu karena ingin bertatapan muka dengan sang kekasih, salim berkirim makanan ringan, atau berkirim surat cinta, hal itu bisa aku lakukan dengan mudah, betapa tidak masjid di Al-falah sangat berdekatan dengan lingkungan asrama putri, apalagi kobong Aisyah dua atau kamar yang ditempati Rani berjarak sekitar 30 meter dari pintu koridor Masjid.

Rani sangat berpengaruh besar dalam hidupku, setiap surat yang dia kirimkan selalu berbentuk kata pujian, kekagumannya pada diriku, tentang kinerjaku di OSIS. Beberapa ungkapan yang ia goreskan dalam suratnya membuat diriku lebih bersemangat untuk pro aktif dalam setiap kegiatan apapun yang diadakan di Pesantren atau di MTs. Pondok al-Qur’an al-falah, begitulah orang-orang menyebutnya. Pesantren ini cukup terkenal di Jawa Barat, karena kharisma pengasuh pondok pesantren ini cukup tersohor. Beliau adalah seorang ulama yang terkenal dengan suaranya dalam melantunkan al-Qur’an, K.H. Ahmad Syahid.

Pesantren ini pula didalamnya terdapat kurikulum berbasis pesantren yang cukup menjanjikan bagi seorang santri. Hal ini berdasarkan bahwa kurikulum yang dipakai di pesantren ini cukup kompeten. Dipesantren ini diajarkan berbagai pelajaran agama yang terbilang cukup mendalam terlebihpendidikan terhadap pemahaman al-qur’an-nya.

Di bawah bimbingan asatidz berkulitas dari segi keilmuan keagamaanya, aku tumbuh menjadi sosok remaja yang penuh dengan cakrawala religi. Didalam bidang tafsir dibimbing langsung oleh K.H. Ahmad Syahid, di bidang fiqh, ia belajar dibawah bimbingan H. Makhtum Abdul Karim dan Solihin. Begitu kerasnya pendidikan yang mereka terapkan menumbuhkan sikap disiplin dan tidak ada toleransi sedikit pun terhadap orang lain, yang berbuat kesalahan. Di bawah bimbingan ustadz Nurul Iman, ia belajar bagaimana mengenalkan dirinya pada Sang Pengendali Taqdir. Tidak luput, seorang guru yang sangat berjasa yang sering mengajarkan kepadaku agar hidup selalu bersikap fleksibel terhadap siapapun dan apapun peristiwa dan kondisi yang menimpanya ialah Alm. Ahmad Abdullah Masturi.

Aku selalu jadi the best di Madrasah Tsanawiyyah Al-Falah, benih kebahagiaan hubunganku dengan Rani menjadikan aku bebas berekspresi, bahkan menghadirkaninspirasi untuk menyumbangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan pesantren, seperti halnya ketika belum adanya penelusuran bakat dan minat dan kemampuan santridi pesantren, aku yang mengusulkan langsung kepada Ajengan Syahid (pengasuh pesantren)agar dibentuk unit kegiatan santri baru yang sesuai dengan bakat yang santri miliki, misalnya jika santri memiliki minat untuk meningkatkan bakat serta kemampuannya dalam bidang kaligrafi maka harus dikembangkan melalui suatu unit kegiatan santri yang menggali potensi dalam bidang kaligrafi, begitu pula dengan yang lainnya, dari ideku tersebut munculah beberapa unit kegiatan santri, seperti Lembaga Bahasa Inggris, Pramuka, Team paskibra, study kaligrafi, untuk melengkapi Lembaga Bahasa Arab Al-Falah, serta Takhosus untuk qiro’at, yang telah ada. Dengan bermunculannya beberapa unit kegiatan santri yang baru, direspon positif oleh para santri, saat itu aku bukan hanya seorang penggagas, tapi aku juga menjadi seorang perintis terutama untuk kegiatan pramuka dan dan Lembaga Bahasa Inggris,
kedua bidang itulah yang paling aku anggap cocok dengan bakat dan kemampuan yang aku miliki, pasalnya aku ingin mengembangkan kembali dasar-dasar teknik pramuka dan bahasa inggris yang telah aku pelajari sebelumnya di SD Assalaam.

Perjuangan beserta sahabat-sahabatku untuk membangun pesantren dengan berbagai unit kegiatan santri ternyata berdampak positif bagi kemajuan pesantren, seperti halnya beberapa santri andalan turutmengikuti berbagai macam lomba antar sekolah, bahkan beberapa kali menjadi juara semasa kepengurusan OSIS yang dipimpin olehku. aku juga terkadang menjadi salah satu kontingen sekolah, terutama lomba-lomba yang berkaitan dengan bahasa inggris, seperti Lomba Pidato Bahasa Inggris, dan Debat dalam Bahasa Ingris.

Bergabungnya aku dalam lembaga bahasa inggris (LBI) waktu itu dipimpin oleh Dudi Iskandar guru bahasa inggris lulusan kediri. Bersama kawan-kawan lainnya, Rizky, Aji Rahmadi, Taufik Ramdani berjuang keras, karena tidak bisa dipungkiri lembaga bahasa inggris ini kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pesantren trutama masalah dana, namun karena semua kegiatan Lembaga Bahasa Inggris ini dilakukan secara militan kembali menjadikanku sosok yang lumayan disegani dihadapan kawan-kawannya dan guru-guru lainnya.

AKU ADALAH SEORANG PEMAKSA NAMUN DIBALIK PAKSAANKU BERNILAI KEBAIKAN

Pada saat itu olahraga basket terbilang mahal karena selain tidak adanya lapangan basket, santri lebih cenderung senang dengan olah raga sepakbola yang pada waktu itu di gawangi oleh Pak Budi sebagai Pelatih plus guru olah raga yang paling dekat dengan para siswa. Tapi karena ada invitasi dari sekolah lain yang mengadakan lomba basket antar smp sebandung timur waktu itu al-ma’soem sebagai penyelanggaranya, membuat aku memutar otak supaya tetap bisa ikut dalam lomba tersebut. Berbagai carapun aku gunakan untuk melobi dewan guru dan pihak yayasan, pada akhirnya pihak sekolah dan yayasan pun menyetujuinya dan team basket “dadakan” alfa pun bisa ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut, walau harus kalah pada babak kualifikasi. Setidaknya hal tersebut sedikit menjadikan kebanggaan dan kemajuan bagi MTs Al-falah. Selain hal tersebut aku juga selalu berusaha dengan keras agar semua program yang telah dirancang oleh kabinet kemakmuran yang aku susun dapat berjalan walaupun hanya satu kali. Semangatku seperti itu mengantarkanku menjadi seorang pemimpin nomor satu dikalangan para siswa lainnya. aku menjalankan organisasi OSIS tersebut dengan baik, memang tidak hanya aku saja yang berjasa terhadap OSIS, tapi setidaknya cara berfikirku yang maju yang ia kembangkan bersama jajaran pengurus osis lainnya menjadikan angkatannya itu menjadi nomor satu diantara angkatan lainnya, pasalnya aku selalu menekankan beberapa hal, yaitu berorganisasi harus aktif, kreatif, inofatif, dan kualifaid agar menjadi seorang organisatoris yang mengukir sejarah. Walaupun pola kepemimpinanku kerapkali dianggap arogan dan diktator serta seringkali terjadi perbedaan pemahaman dengan jajaran lainnya yang berujung keributan-keributan kecil.

Dengan semangatku seperti itu, Siapapun pada waktu itu mengenal sosok aku yang cerdas baik santri laki-laki atau santri perempuan, namun bukan tanpa cacat, karena manusia juga adalah makhluk yang tidak sempurna. Aku juga remaja pernah merasakan nikmatnya masa-masa pacaran yang sudah tentu hal itu sangat dilarang dipesantren. Berbagai cara siapapun orangnya termasuk aku, berusaha untuk mendapatkan perhatian dan tentunya bisa bertemu dengan orang yang memang sudah mencuri hatiku.

Rani Nurhayati santri putri yang telah membuatku “Fall In Love” adalah sesosok perempuan yang tinggi semampai, pintar dan cantik, jua tergabung dalam pengurus OSIS. Paling tidak kesempatan tuk bersua pun semakin besar, karena sama-sama pengurus osis. Biasanya seusai rapat osis, aku dan rani menyempatkan sedikit waktu untuk sekedar ngobrol, walau dalam hatiku sedikit degdegan takut ketahuan. Sepintar-pintar tupai melompat akhirnya jatuh jua, mungkin itu pribahasa yang tepat untuk menggambarkan beberapa cinta terlarang yang terjadi di pesantren. Adalah aku, Ami, Hafidz dan kawan lainnya yang tertangkap basah oleh beberapa pengurus putera dan puteri, karena berkencan tengah malam di tangga dekat Aula pesantren kami menyebutnya dengan “tangga cinta’’. Keindahan hubungan cinta kami pun sedikit terganggu, pasalnya pengurus puteri khususnya “teh Dewi Sarah” begitu santri puteri memanggilnya, marah bukan kepalang. Rani dan beberapa santri putri yang mempunyai pasangan kena hukuman yang dikenakan oleh pengurus. Tapi, sebagai imbasnya semua santri kena hukuman “preventif” agar “Cinta di dibalik Penjara Suci” tidak merambat ke seluruh santri.

IMBANGI KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Setelah tersiar kabar dari beberapa pengurus OSIS putrid jika para pasangan putri telah tercium gerak-geriknya karena memiliki pasangan, sempat tersirat dalam pikiranku untuk memperbaiki image angkatanku di mata para pengurus Pesantren. Walaupun sempat hatiku berontak, kenapa mencintai iru dilarang. Pada waktu itu bertepatan dengan moment bulan kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai ketua OSIS aku ditunjuk oleh H. Makhtum Abdul sang Rois pesantren untuk menggelar kegiatan peringatan HUT R_I, aku pun terima tawaran itu, walaupun dengan dana seadanya aku dibantu oleh semua teman seangkatanku menggelar beberapa lomba merakyat yang biasa digelar jika 17-an tiba dengan sangat meriah, sampai pada saat pembagian hadiah kami menggelar malam puncak dengan kreasi seni khas santri, hampir semua angkatan berpartisipasi memeriahkan acara tersebut, pada saat itu aku mendapat bocoran jika santri putri akan menampilkan drama musikal berdurasi pendek yang menceritakan kasih sayang seorang ibu. Seolah tak mau kalah kami pun santri putra mendadak latihan drama, hanya saja yang santri putra tampilkan merupakan drama komedi yang menceritakan beberapa profesi dengan karakter lucu. Bermaksud ingin menambah pendalaman karakter agar totalitas peran bisa kami tampilkan dengan sempurna serta mengurangi perasaan malu, kami pun memoles wajah kami dengan bedak yang begitu tebalnya serta ditambah goresan lipstik tebal di beberapa bagian wajah kami, saat itu aku berperan sebagai tukang peyeum, beberapa lawan mainku hafidz, Amy, Aji dan sang pencair suasana gunawan ganda, mengambil peran banci, pejabat yang korup, mahasiswa dan guru. Walaupun tanpa konsep yang jelas namun drama tersebut berhasil mampu membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak, diatas deretan meja dari beberapa kelas yang kami susun sebelum acara dimulai, kami mampu berimprovisasi, tak ayal saat kami tampil sorak sorai luapan kegembiraan serta tepuk tangan pun terdengar menghangatkan suasana, terutama saat kami sedikit bumbui dengan beberapa kritikan tentang cinta, kritikan tersebut kami tujukan kepada pengurus pesantren putri yang kami anggap terlalu over protektif kepada santrinya. Kendatipun ada sedikit perasaan jika kritikan yang kami sampaikan melalui sebuah drama, berimbas omelan pengurus pesantren putri karena mereka tidak menerima kritikan yang kami sampaikan. Walhasil setelah kami turun panggung tidak terjadi apa-apa hanya beberapa respon positif dari teman-teman kami jika penampilan kami mendekati sempurna, terlebih penampilan drama yang kami tampilkan adalah aksi teaterikal pertama kali yang ditampilkan di pesantren.

Beberapa minggu setelah penampilan itu, rumor asrama putri kembali menggeliat, pasalnya Rani dan beberapa temannya yang memiliki pasangan kembali di panggil pengurus pesantren putri, deraan hukuman digulirkan, membersihkan Mesjid, serta MCK putri dan hukuman lainnya harus mereka jalani, para pasangan putra termasuk aku pun terkena pemanggilan, namun hanya sebatas pemanggilan dan sangsi moril saja saja yang kami terima. Hal tersebut tidak menyurutkan ku untuk tetap berkomunikasi dengan Rani,perasaan kangenku tak tertahankan, aku ingin tahu kabar dia saat itu, maklum setelah pemanggilan pertama kami tidak saling berkirim surat. Untukkali ini aku memikirkan cara lain, agar gera
k-geriku tidak dicurigai, aku coba berkomunikasi lewat buku, buku yang bertuliskan perasaan rinduku aku titipkan kepada OSIS putri, dan balasan yang aku terima, Rani membenarkan rumor yang terjadi, Rani berpesan pula agar hubungan kami terpaksa harus terhenti sementara waktu. Keputusan yang Rani tulis tampaknya harus aku terima, hal ini aku lakukan demi kebaikan kami berdua.

Beberapa minggu setelah pemanggilanku oleh pihakpesantren, aku kembali membuat sebuah gebrakan, saat itu aku mengajak semua angkatanku untuk membenahi beberapa infrastruktur di pesantren, seperti pagar di tiap-tiap kamar yang saat itu belum ada, serta tiang jemuran yangsaat itu masih terbilang kurang. Hanya dengan modal kemauan kami membawa beberapa tangkai bambu besar dari hutan bambu yang jaraknya tidak jauh dari pesantren. Bahu membahu kami pun membelah beberapa bambu itu untuk dijadikan pagar dan tiang jemuran. Alhamdulillah usaha kami tidak sia-sia, angkatan kami pun mendapatkan kepercayaan kembali dari pengurus pesantren hingga masa kelulusan pesantren.

Selepas kelulusan Pesantren di tahun 1999, aku melanjutkanpendidikanku ke SMK Prakarya Internasional jurusan Listrik Instalasi, saat itu aku sikap semangat dalam menghadapi berbagai masalah tidak pernah berubah, hanya saja ketika aku berhadapan dengan masalah perempuan semuanya terabaikan, bahkan boleh dibilang aku ini traumatis. Saat duduk di kelas 1 SMK, aku masih berhubungan dengan Rani, namun karena ada beberapa permasalahan yang masing – masing tidak mau mengalahdan kami memilih untuk berpisah. Untuk melupakan Rani, seperti biasa aku kembali aktif di beberapa organisasi di Sekolah, terutama OSIS, di OSIS aku kembali menjadi Ketua umum, namun berbeda dengan di Pesantren di SMK Prakarya aku tidak terlalu booming membuat suatu kegiatan, karena aku lebih konsen dalam akademis, alhamdulillah untuk urusan prestasi di kelas,aku tetap nomor satu. Bahkan aku menjadi nominasi 18 besar Siswa teladan se-kota Bandung yang diselenggarakan Dinas Pendididikan dan Kebudayaan Kota Bandung.Selain itu aku lebih memilih pro aktif di beberapa organisasi di rumah, serta aku aktif pula di Mesjid Nurul Huda, Mesjid Nurul Hidayah dan Mesjid Al-Hikmah sebagai tenaga pengajar. Dari mesjid ke mesjid aku kenal dengan beberapa santri yang nota bene usia mereka berbeda beberapa tahun dariku, naluri lelakiku menggebu-gebu saat itu, betapa tidak aku merasakan ada suatu ruang yang kosong dalam hidupku aku pun tertarik pada santriku Neysa Wulansari. Hubunganku dengan wulan biasa aku memanggilnya terbilang cukup lama, namun karena ada sesuatu hal hubunganku kandas kembali. Dari saat itu hingga kini aku masih tetap menjomblo. Namun Rani dia menikah dengan Riana Firdaus, aku kenal suaminya dia adalah guru ngajiku dulu di pesantren, sedangkan wulan dia telah memiliki kekasih.