HAKIKAT URGENSI SERTA ISTIADZAH DALAM DO’A

Posted on November 26th, 2008 in ARTIKEL DAN MAKALAH, Dakwah by aandry-neney
OLEH : Andri Hardiansyah

I. PENGERTIAN

Doa adalah memohon apa yang telah ditindaklanjuti dengan kelayakan, pekerjaan, dan pemikiran. menurut Rasululloh : “Doa merupakan silah (senjata) bagi kaum Mukminin. Juga, do’a adalah inti dari suatu peribadatan.” (HR. Bukhari & Muslim). Sedangkan menurut perspektif Al-qur’an Al-Quran, pengertian do’a begitu bias, seperti Abû Al-Qasim Al-Naqsabandî dalam kitab syarah Al-Asmâ’u al-Husnâ menjelaskan beberapa pengertian dari kata doa :

Pertama, do’a dalam pengertian “Ibadah.” Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.

Artinya: “Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau.”

Maksud kata berdo’a di atas adalah beribadah (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yakni kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.

Kedua, doa dalam pengertian Isti’ghotsah (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.

Artinya: “Dan berdo’alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu.”

Maksud kata ber-”doa” (wad’u) dalam ayat ini, adalah “Istighatsah” (meminta bantuan, atau pertolongan). Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.

Ketiga, Doa dalam pengertian permintaan atau permohonan (isti’anah) Seperti dalam Al-Quran surah Al-Mu’minûn ayat 60 dibawah ini.

Artinya: “Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu.”

Maksud kata “Doa” (ud’ûnî) dalam ayat ini adalah, “memohon” atau “meminta.” Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.

Keempat, Doa dalam pengertian percakapan. Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 10 dibawah ini.

Artinya: “Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Subhânakallâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan).”

Kelima, Doa dalam pengertian memanggil. Seperti firman Allah dalam Al-Quran dibawah ini.

Artinya: “Pada hari, dimana la mendoa (memanggil) kamu.”

Maksud kata doa (yad’û) dalam ayat ini adalah memanggil. Yaitu, pada suatu hari, dimana la (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.

Keenam, Doa dalam pengertian memuji. Seperti dalam Al-Quran surah Al-Isrâ’ ayat 110 dibawah ini.

Artinya: “Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang).”

Maksud kata doa (qulid’û) dalam ayat ini adalah memuji. Yaitu, pujilah olehmu Muhammad akan Allah atau pujilah olehmu Muhammad akan AR-Rahmân, maka dengan pengertian tersebut do’a bisa dikatakan pula bahwa dzikir sebagai doa

Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa doa adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya. Atau dengan istilah Al-Tîbî seperti dikutip Hasbi Al-Shidiq do’a adalah Melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah Swt.

II. HAKIKAT

Sebagai hamba Alloh, pasti kita tidak terlepas dari kegiatan berdoa. Kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah adalah bukti nyata bahwa kita membutuhkan kegiatan ini. Sering kali ketika kita mendapat suatu kesulitan yang kita sudah tidak bisa lagi untuk berbuat apa-apa kita membutuhkan sesuatu untuk tempat mengadu, sesuatu yang mengatur semuanya, sesuatu yang kita harapkan bisa memberikan kebahagian kepada kita kelak. Berdoa adalah suatu fitrah manusia yang tidak dapat kita pungkiri. Sebagai makhluk Alloh, kita bebas untuk berdoa apapun dan kapanpun.

Kita sering kali salah dalam mengganggap doa. Doa bukan hanya sekdar ucapan bias. Doa bukan merupakan sebuah mantra yang kita baca tanpa tau maksudnya. Doa harus disertai dengan ”persetubuhan ” kita terhadap doa yang kita ucapkan. Doa merupakan bagian yang terintegrasi dengan usaha. Doa tanpa usaha hasilnya akan nol besar. Doa pada hakikatnya merupakan konsultasi akhir kepada yang maha kuasa atas masalah ataupun keinginan kita.

Rosululloh SAW bersabda :

” Allah berfirman bahwa sesungguhnya Ia (Allah) adalah seperti prasangka hambaku”(shohih Bukhori Muslim) Dari hadist tersebut, kita dapat mengetahui bahwa salah satu syarat bahwa doa kita dikabulkan adalah kita yakin bahwa doa kita dikabulkan. Seperti yang Alloh janjikan :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa. Apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memnuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada di dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah : 186)

Namun pada dasarnya manusia mudah untuk berputus asa. Sangat naif apabila kita sering berdo’a namun muncul pula pikiran negatif, berprasangka jika do’a kita tidak akan dikabulkan hingga pada akhirnya berputus asa dari rahmat Allah. Padahal jika ditela’ah ayat diatas begitu menjelaskan bahwa Alloh tidak secara langsung menunjukkan jalan keluar setiap persoalan hidup yang dihadapi oleh Umatnya, dari ayat diatas jika penulis menarik suatu pemahaman bahwa Alloh akan mengabulkan do’a seseorang jika dirinya sudah melaksanakan ibadah dengan maksimal dan istiqomah. Pada Sebuah riwayat yang diceritakan oleh Ibn Husain : Alloh berfirman

“Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya dari-Ku?Aku pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap. Andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, Mintalah kepada-Ku! Aku pun lalu memberikan kepada masing-masing, pikiran apa yang terpikir oleh semuanya. Dan semua yang Kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku, meskipun sebesar debu.”

Janji-janji Allah di atas akan terwujud apabila kita melakukan komunikasi dan interaksi dengan Allah. Salah satu bentuk komunikasi dan interaksi dengan Allah tersebut adalah melalui doa. Pada hakikatnya doa adalah penuntun kita untuk mengubah diri. Ini menjadi penting karena hidup kita tidaklah statis, namun senantiasa dinamis, penuh dengan tantangan dan kebutuhan. Tantangan dan kebutuhan merupakan ujian untuk melihat mana hamba yang tetap pada fitrah kesucian dan mana yang tidak.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa siapa pun yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, janganlah lebih dulu memperhatikan apa yang kita minta. Akan tetapi perhatikan apa yang bisa kita ubah dahulu dari diri kita sendiri. Selain sebagai media komunikasi dan interaksi dengan Allah, doa juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri pada Allah. Allah menyediakan berbagai jalan bagi hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.

Ketika kita berdoa, yang paling penting bukanlah ijabahnya doa. Bukan pula datangnya barang yang kita minta, atau lenyapnya kesulitan yang menimpa. Meningkatnya kedekatan diri kita kepada Allah SWT. Justru yang paling penting dari proses doa yang kita lakukan.

Pada akhirnya dalam proses pelaksanaan doa diperlukan interaksi dua arah. Yaitu interaksi kita dengan diri kita melalui introspeksi, dan interaksi kita pada Allah. Kita harus mengkritisi dan mengevaluasi terhadap perilaku kita, sambil kita terus mengikat diri pada Allah. Dengan demikian hakikat doa tidak sekedar mencari kepuasan atas dikabulkannya permintaan kita, tetapi ia berdampak pada kedekatan pada Illahi.

III. URGENSI

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad saw bersabda :

“Doa merupakan silah (senjata) bagi kaum Mukminin. Juga, do’a adalah inti dari suatu peribadatan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa do’a menjadi senjata dan inti dari peribadatan bagi kaum mukminin?, menurut Said Aqiel Siradj do’a selalu dan ‘lebih’ menekankan pada dimensi spiritual. Dan dimensi spiritualitas dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam.

Kaitannya dengan manusia, maka do’a ‘lebih’ menekankan pada aspek rohani ketimbang aspek jasmani. Berkaitan dengan kehidupan, ia lebih menekankan – kehidupan akhirat – yang lebih baik dan kekal ketimbang dunia yang fana dan relative. Disamping itu, do’a juga lebih menekankan penafsiran batini daripada lahiri.

Maka do’a menjadi begitu penting dalam kehidupan kita, karena setiap orang yang hendak berdo’a, pastilah pertimbangan awalnya adalah mengutamakan nilai-nilai spiritual ketimbang nilai-nilai jasadiyah, memercayai dunia spiritual ketimbang dunia jasmani. Begitupula Alloh. Dia juga bersifat spiritual, ruhani, dan immaterial. Sehingga, orang yang berdo’a menganggap atau berkeyakinan kuat dalam hatinya yang terdalam bahwa, Tuhanlah realitas sejadi; Dia-lah “asal” sekaligus “tempat kembali”. Kepada-Nya semua permohonan mengorientasikan jiwa dan raga mereka. Dia-lah buah kerinduan hatinya. Dan, hanya kepada-Nya semua manusia sepantasnya mengajukan harapan dan permohonan.

Sandaran naqliyyah di atas menantang kita untuk senantiasa tidak bosan-bosan dan malu-malu menyanjungkan permohonan (do’a) kepada-Nya. Melewati sarana do’a inilah, kita mengukuhkan sikap tulus, tawakal (pasrah diri), sabar, wara’i, serta tahapan-tahapan lain dalam perjalanan ruhani seorang sufi. Realitas semacam ini, ditopang pula dengan karakter manusia, sebagai makhluk yang amat membutuhkan pertolongan dari-Nya.

IV. ISTIADZAH

Do’a dalam implementasinya bermakna Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah SWT dari setiap yang jahat. Al-’iyadzah (permohonan pertolongan) dalam usaha menolak kejahatan, sedangkan al-layadzu (permohonan pertolongan) dalam upaya memperoleh kebaikan.

A’udzubillahiminasysyaithonirrajim berarti, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjaka apa yang Dia larang, karena setan itu tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menggoda kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah SWT menyuruh manusia agar menarik dan membujuk hati setan jenis manusia dengan cara menyodorkan suatu yang baik kepadanya supaya dengan demikian dia berubah tabiatnya dari kebiasannya mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari setan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan, sebab tabiatnya jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakannya.

Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat Alquran. Pertama, firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.”

Makna di atas berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.

Kemudian, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200). Berlindung kepada allah maksudnya adalah membaca a’udzubillahiminasysyaithonirrajim.

Dalam surat Al-Mukminun Allah SWT berfirman yang artinya, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mukminun: 96 — 98).

Dan dalam surat Fushshilat ayat 34 — 36 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam bahasa Arab, kata syaitan(setan) berasal dari kata syathan, berarti jauh. Jadi, syaitan itu tabiatnya jauh dari tabiat manusia, dan dengan kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syata (terbakar), karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama yang lebih benar.

Menurut Sibawaih, bangsa Arab bisa mengatakan tasyaithana fulan, jika fulan itu berbuat seperti perbuatan setan. Jika katasyaitan itu berasal dari kata syatha, tentu mereka mengatakan tasyaith yang berarti jauh. Oleh karena itu, mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan. Berkenaan dengan hal itu Allah berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tia nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang ndah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112).

Dalam buku Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadis dari Abu Dzar ra, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Wahai Abu Dzar, mohonlah engkau kepada Allah perlindungan dari setan-setan dari jenis manusia dan jin.” Lalu kutanyakan, “Apakah ada setan dari jenis manusia?” “Ya,” jawab beliau.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah saw bersabda, “Yang memotong salat itu adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan, “Ya Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing merah atau kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah setan.”

Ar-rojim adalah berwazan fa’il (subjek), tetapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa setan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 5).

V. KESIMPULAN

• Doa merupakan permohonan yang disanjungkan kepada Allah swt secara lisan

• Permohonan yang tidak diungkapkan melalui kalimat-kalimat verbal (verbalize), namun cukup dengan sikap atau kondisi tertentu yang muncul di permukaan. Misal: seorang faqir datang ke hadapan orang kaya (ghani), begitu pula kondisi binatang yang memerlukan makanan. Hal ini bisa dikatan sebagai do’a pula.

• Do’a memiliki dimensi yang amat luas.

• Do’a dalam implementasinya bermakna Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah SWT dari setiap yang jahat.

VI. REFERENSI

1. Dr. Ali Syariati, Makna Doa

2. Al-Bayan, Shohih Bukhori Muslim, Jabal press, 2007

3. Hasbi Al-Shidiqi, Altibi

4. Abdullah Gymnastiar, Hakikat Doa.

5. Said Agil Siraj( Republika,21 November 2007)

6. Tata Sukayat, Quantum do’a

7. Terjemahan Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir,Tafsir Ibnu Katsir, Tim Pustaka Imam as-Syafi’i

METODOLOGI DAKWAH NABI IBRAHIM

Posted on November 26th, 2008 in ARTIKEL DAN MAKALAH, Dakwah by aandry-neney
Oleh : Andri Hardiansyah

I. SEJARAH

Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung. Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang Maha Kuasa.

Semakin beranjak dewasa, Ibrahim mulai berbaur dengan masyarakat luas. Salah satu bentuk ketimpangan yang dilihatnya adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap patung-patung. Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah SWT dan menjauhi berhala, memohon kepada Allah SWT agar kepadanya diperlihatkan kemampuan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati. Tujuannya adalah untuk mempertebal iman dan keyakinannya.

Allah SWT memenuhi permintaannya. Atas petunjuk Allah SWT, empat ekor burung dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu kembali hidup. Hilanglah segenap keragu-raguan hati Ibrahim AS tentang kebesaran Allah SWT.

Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.

Ibrahim merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia merayakan suatu hari besar dengan tinggal di luar kota selama berhari-hari. Ibrahim lalu memasuki tempat peribadatan kaumnya dan merusak semua berhala yang ada, kecuali sebuah patung yang besar. Oleh Ibrahim, di leher patung itu dikalungkan sebuah kapak. Akibat perbuatannya ini, Ibrahim ditangkap dan diadili. Namun ia menyatakan bahwa patung yang berkalung kapak itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka dan menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya. Tentu saja para hakim mengatakan bahwa berhala tidak mungkin dapat ditanyai. Saat itulah Nabi Ibrahim AS mengemukakan pemikirannya yang berisi dakwah menyembah Allah SWT.

Hakim memutuskan Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya. Saat itulah mukjizat dari Allah SWT turun. Atas perintah Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim pun selamat. Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian ini mulai tertarik pada dakwah Ibrahim AS, namun mereka merasa takut pada penguasa.

Langkah dakwah Nabi Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud dan kaki tangannya. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS meninggalkan tanah airnya menuju Harran, suatu daerah di Palestina. Di sini ia menemukan penduduk yang menyembah binatang. Penduduk di wilayah ini menolak dakwah Nabi Ibrahim AS. Ibrahim AS yang saat itu telah menikah dengan Siti Sarah kemudian berhijrah ke Mesir. Di tempat ini Nabi Ibrahim AS berniaga, bertani, dan beternak. Kemajuan usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga ia pun kembali ke Palestina.

Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Untuk memperoleh keturunan, Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahi Siti Hajar, pembantu mereka. Dari pernikahan ini, lahirlah Ismail yang kemudian juga menjadi nabi. Ketika Nabi Ibrahim AS berusia 90 tahun, datang perintah Allah SWT agar ia meng-khitan dirinya, Ismail yang saat itu berusia 13 tahun, dan seluruh anggota keluarganya. Perintah ini segera dijalankan Nabi Ibrahim AS dan kemudian menjadi hal yang dijalankan nabi-nabi berikutnya hingga umat Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT juga memerintahkan Ibrahim AS untuk memperbaiki Ka’bah (Baitullah). Saat itu bangunan Ka’bah sebagai rumah suci sudah berdiri di Mekah. Bangunan ini diperbaikinya bersama Ismail AS. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 127. Ibrahim AS adalah nenek moyang bangsa Arab dan Israel. Keturunannya banyak yang menjadi nabi. Dalam riwayat dikatakan bahwa usia Nabi Ibrahim AS mencapai 175 tahun. Kisah Nabi Ibrahim AS terangkum dalam Al Qur’an, diantaranya surat Maryam: 41-48, Al-Anbiyâ: 51-72, dan Al-An’âm: 74-83.

II. NABI IBRAHIM DALAM MENGHADAPI MAD’U

Ada dua karakteristik mad’u yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Pertama, ada orang yang sudah tertutup hatinya. Tipe ini benar-benar sulit untuk didakwahi sekalipun sudah disampaikan dengan berbagai caradan pendekatan terbaik. Namum menarik kesimpulan seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika jika dakwah telah diperjuangkan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Nuh As[QS. Nuh:5-20]. Bukan hanya sekali atau dua kali mencoba lalu gagal dan memvonis mad’u tidak layak didakwahi. Kedua, tipe yang terbuka hatinya. Kerja dakwah ibarat sales yang menjajakan barang dagangan. Ia harus disajikan dengan cara yang baik dan menarik, benar. Lewat kisah nabi Ibrahim as, Qur’an menyajikan uslub (cara) yang baik dan menarik. Sedikitnya ada 9 Rambu dakwah yang dilakukan Nabi Ibrahim As, yaitu pada Surat Maryam 41-50 :

A. Berlaku lemah lembut dan menghindari kesan menggurui. Secara manusiawi, orang yang lebih tua tidak mau digurui oleh yang lebih muda. Bahkan cara ini harus dilakukan dimulai sampai pada tingkat pemanggilan yang sudah harus terkesan lembut. Allah swt berfirman : “Ingatlah ketika ia (Nabi Ibrahim) berkata kepada bapaknya : ‘wahai bapakku’” (Maryam 41). Pada kata yaa abati dalam bahasa arab digunakan lilmulathafah yaitu panggilan yang mengesankan rasa sayang dan manja. Insya Allah, jika hati orang tua masih terbuka, panggilan yang tampaknya sederhana ini akan tergugah jiwanya.

B. Memiliki hujjah yang kuat dan mematikan. Ini seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As dalam QS Maryam:42. Suatu penjelasan yang sederhana, namun mampu menjadikan orang tuanya berpikir secara logis terhadap kesalahan yang dilakukan.

C. Selalu berupaya menambah ilmu pengetahuan dan mampu menampakkan keilmiahan dakwah yang dibawanya. Inilah yang tersirat dalam kata-kata Nabiyullah Ibrahim as. pada orang tuanya (Maryam : 43).

D. Mampu menjelaskan jalan-jalan kesesatan yang ditebarkan setan dan tentaranya (maryam : 44).

E. Memiliki ruhiah yang tinggi, sehingga mampu mengingatkan orang tua dengan adzab Allah yang ditimpakan baik di dunia maupun di akhirat bagi orang yang terus-menerus jauh dari ajaran Allah. (Maryam : 45).

F. Memiliki kesiapan yang tinggi mengenai resiko dakwah. Misal, pengucilan, pengusiran, dan mungkin kekerasan. Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash adalah di antara sahabat yang merasakan beratnya tantangan ini. Namun hal ini berhasil mereka hadapi dengan sikap tsabat (teguh). QS : 19:46.

G. Menjaga hubungan baik dengan orang tua sekalipun menjadi penantang dakwah. Tetap senantiasa mendoakan agar mereka kembali ke jalan yang diridhai Allah. Itupun yang dilakukan Ibrahim as dalam QS Maryam : 47.

H. Seorang da’i harus teguh dalam menghadapi ujian da’wah dari orang tua. (Maryam : 48)

III. BEBERAPA FAKTOR YANG DIPELIHARA NABI IBRAHIM DALAM BERDAKWAH

Nabi Ibrahim as. adalah salah seorang manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Beliau sering disebut-sebut sebagai “bapak ajaran Tauhid”, meskipun sebenarnya sudah banyak Nabi dan Rasul sebelumnya yang sama-sama menyebarkan ajaran Tauhid. Tentu ada alasannya mengapa beliau memiliki nama yang harum, sehingga beliau senantiasa dikenang, ribuan tahun setelah masa hidupnya.

Dalam Al-Qur’an terdapat sebuah surah khusus y
ang diberi judul “Ibrahim”. Tentu Allah SWT memiliki alasan yang sangat bagus mengapa sosok Luar biasa ini dijadikan sebuah titik fokus dalam salah satu surat di dalam Kitab Suci-Nya. Secara spesifik, Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan salah satu episode dalam hidupnya, yaitu serangkaian doa yang pernah diucapkannya dahulu kala. Setiap Muslim – khususnya aktifis dakwah – bisa mengambil banyak pelajaran dari episode ini.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala,”
(Q.S. Ibraahiim 14 : 35)

Prasyarat utama dari keberhasilan dakwah adalah keamanan. Jika tempat kita berdakwah tidak aman, maka dakwah tentu tidak bisa dilaksanakan secara maksimal dan memerlukan beberapa strategi khusus, misalnya secara sembunyi-sembunyi. Metode sembunyi-sembunyi ini pernah digunakan pula oleh Nabi Muhammad saw. pada awal dakwahnya, karena pada saat itu pengikut beliau masih sangat sedikit, dan ajaran Islam dianggap sebagai musuh oleh para penyembah berhala, khususnya di Mekkah.

Prasyarat berikutnya adalah aqidah dari para aktifis dakwah itu sendiri. Bagaimana mungkin ajaran Tauhid bisa disebarkan oleh seseorang yang menyembah berhala? Nabi Ibrahim as. bahkan tidak malu-malu untuk memohon perlindungan Allah SWT agar ia dan anak-cucunya tidak sampai tergoda untuk menjadi penyembah berhala. Dalam hal ini, beliau telah berpikir sangat jauh. Nabi Ibrahim as. tahu bahwa berhala bukan hanya batu atau kayu yang dipahat menjadi suatu bentuk dan disembah-sembah. Kekuasaan, kehormatan, ego pribadi dan uang pun bisa menjadi berhala. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. benar-benar berdoa agar Allah tidak memalingkannya dari Tauhidullah kepada berhala-berhala yang kadang sulit untuk diidentifikasi.

“Ya Rabbi, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 36)

Kita dapat melihat sikap yang menjadi ciri khas Nabi Ibrahim as. di sini, yaitu lembut dan penuh kasih sayang kepada siapa pun. Mengomentari masalah penyelewengan aqidah, Nabi Ibrahim as. sama sekali tidak membenci para penyembah berhala. Sebaliknya, beliau mengadukan keberadaan berhala-berhala tersebut yang dianggapnya sebagai oknum yang menyebabkan banyak orang tersesat. Beginilah sikap seorang aktifis dakwah sejati. Jika melihat ada orang yang berbuat menyimpang, ia tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Mereka melakukannya karena memiliki kasih sayang yang amat besar pada semua objek dakwahnya. Mereka begitu mencintai setiap saudaranya sehingga ingin menjauhkan mereka dari segala keburukan. Inilah motivasi dakwah yang benar.

Seseorang yang membenci objek dakwahnya selamanya tidak akan berhasil menyelesaikan misi dakwah. Tidak akan ada yang mau mendengarkannya, karena tidak ada orang yang mau dibenci. Tugas seorang kader dakwah adalah menyadarkan objek-objek dakwahnya bahwa jalan yang ditentukan oleh Allah adalah jalan yang terbaik. Jika mereka tidak mau mengikutinya, maka mereka akan menganiaya dirinya sendiri.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim as. menegaskan bahwa orang-orang yang mengikutinya adalah bagian dari golongannya. Akan tetapi, beliau tidak mengutuk mereka yang menolak dakwahnya. Di sisi lain, beliau juga tidak diperbolehkan untuk mendoakan orang-orang kafir. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. hanya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memiliki sifat yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Sekali lagi, jelaslah bagi kita bahwa Rasul yang agung ini adalah seseorang yang memiliki hati sangat lembut, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya sekalipun.

Selain itu, beliau tidak mengatakan “barang siapa yang tidak mengikutiku,” namun menggunakan kata-kata : “barang siapa mendurhakaiku”. Artinya, beliau tidak menuntut orang-orang untuk mengikutinya tanpa sebab. ‘Durhaka’ adalah istilah yang kita gunakan ketika ada seseorang yang tidak menunaikan hak kita, sementara kita telah menunaikan haknya. Anak yang melawan orang tua disebut durhaka, demikian juga orang tua yang tidak memberikan hak-hak pada anaknya. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as. hanya ‘mengecam’ orang-orang yang memfitnahnya atau tidak mengindahkan argumen-argumen logis yang telah diajukannya. Tidak mentang-mentang karena beliau seorang Rasul, lantas semua orang dituntut untuk mengikutinya. Nabi Ibrahim as. tidak mengelak dari kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran tanpa kenal lelah. Beliau senantiasa siap untuk berdiskusi dengan siapa pun dan menyampaikan argumen-argumen yang baik. Seorang aktifis dakwah pun hendaknya memposisikan dirinya dengan cara yang sama.

“Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 37)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk meninggalkan anak istrinya (Nabi Ismail as. dan ibunya) di sebuah daerah tandus yang kini dikenal sebagai kota Mekkah. Selain karena yakin kepada pertolongan Allah, tentu ada alasan lain mengapa Nabi Ibrahim as. mau meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya itu di tempat tandus tak bertuan. Nabi Ibrahim as. merasa yakin pada kualitas diri keluarganya. Tidak mungkin beliau meninggalkan mereka berdua hanya dengan berharap pada pertolongan Allah semata, karena beliau pastilah sangat memahami makna tawakkal.

Bagi seorang kader dakwah, keluarga adalah benteng pertama yang harus dibangun setelah dirinya sendiri. Tidak ada alasan membenahi orang lain sementara keluarga sendiri dibiarkan terbengkalai. Ini adalah suatu kekeliruan yang amat fatal. Seluruh anggota keluarga kita harus dididik dengan baik sehingga memiliki kualitas yang jauh di atas standar, standar apa pun itu. Dengan demikian, umat Islam akan dipenuhi oleh para pemuda yang dibesarkan di dalam keluarga yang amat tangguh.

Lihatlah kekhawatiran Nabi Ibrahim as. yang terlihat dengan jelas di dalam doanya! Beliau tidak khawatir ajal menjemput anak istrinya. Jika mereka benar-benar menemui ajalnya di sana, maka setidaknya mereka wafat dalam keadaan mematuhi perintah Allah SWT. Yang dikhawatirkan adalah aqidah keduanya. Nabi Ibrahim as. memohon agar Allah memberikan kecenderungan pada mereka agar terus melaksanakan shalat dengan penuh komitmen. Beliau pun memohon berbagai kebaikan untuk mereka, bukan untuk memanjakan mereka, namun dengan harapan agar mereka senantiasa bersyukur pada Allah. Aqidah adalah hal pertama yang harus kita pikirkan demi kebaikan keluarga kita.

“Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 38)

Apa alasannya Nabi Ibrahim as. mengucapkan doa semacam ini? Hanya sekedar penegasan bahwa Allah Maha Tahu? Nampaknya tidak.

Kalau kita membaca doa di atas dan mencoba memahami betul maknanya, kita akan melihat bahwa bahkan seorang manusia saleh sekelas Nabi Ibrahim as. sekalipun mengakui kelemahan dirinya. Kadang-kadang kita membuat kesalahan dan menutup-nutupinya dengan sejuta pembenaran. Kadang pembenaran itu kita sampaikan pada orang lain, kadang hanya disimpan di dalam hati untuk menekan rasa bersalah. Nabi Ibrahim as. bersikap sangat ksatria dengan mengakui bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk melakukan kesalahan semacam itu. Karena itu, dengan doa ini, seolah ia menegaskan kepada Allah bahwa ia tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun dari-Nya, dan semoga ia dihindarkan dari keinginan semacam itu.

Seorang kader dakwah tidak terhindar dari kesalahan. J
ika sampai tergelincir pada suatu kesalahan, kita tidak perlu menutup-nutupinya. ‘Status’ sebagai kader dakwah tidak perlu membuat kita merasa berat untuk mengakui kelemahan diri. Sebaliknya, dengan mengakui kesalahan secara ksatria, justru kita akan mendapat lebih banyak kehormatan.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabb-ku benar-benar Maha Mendengar doa.” (Q.S. Ibraahiim [14] : 39)

Dari sekian banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, Nabi Ibrahim as. menyebutkan salah satu yang dirasakannya sebagai nikmat terbesar, yaitu dua orang anak. Kehadiran keduanya sulit untuk diterima akal sehat, karena waktu itu Nabi Ibrahim as. telah berusia lanjut. Akan tetapi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Kehadiran Ismail as. dan Ishaq as. tentu saja sangat patut untuk disyukuri. Keduanya adalah orang saleh, bahkan kemudian diangkat menjadi Nabi. Lagi-lagi Nabi Ibrahim as. menunjukkan pada semua kader dakwah penerusnya bahwa anak yang saleh adalah rizqi yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, harus dipahami bahwa salah satu tugas utama dari seseorang yang telah memiliki keturunan (sesibuk apa pun pekerjaannya) adalah membesarkan anaknya dengan baik.

“Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Rabb, perkenankanlah doaku,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 40)

Nabi Ibrahim as. tidak khawatir anak cucunya jatuh miskin. Beliau juga tidak khawatir jika mereka terbunuh atau disiksa di jalan dakwah. Asalkan mereka tetap memelihara aqidah-nya, maka keadaan tersebut sudah sangat ideal dalam pandangan beliau. Demikianlah pandangan seorang kader dakwah, tidak kurang dan tidak lebih.

“Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 41)

Seorang Rasul agung memohon ampun atas dosa-dosanya, sementara Allah sendiri telah menjamin nasibnya di akhirat kelak! Beginilah seorang manusia pilihan memelihara kerendahhatiannya. Tidak ada alasan untuk merasa suci di hadapan Allah, karena setiap orang pernah melakukan kesalahan. Di samping itu, kita hanya bisa masuk surga (atau terhindar dari neraka) jika Allah mengijinkannya. Bisakah kita menentang Allah, sekiranya Dia berkehendak lain?

Hal lainnya yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Nabi Ibrahim as. sungguh-sungguh (seorang Nabi tidak akan menggunakan ucapan yang sia-sia, apalagi ketika berhadapan dengan Allah) mendoakan semua orang yang beriman. Serendah apa pun kadar keimanan seseorang, maka ia termasuk dalam doa Nabi Ibrahim as. tersebut. Banyak Mukmin yang membangkang, tapi bukan berarti ia sudah tidak beriman. Selama ia masih beriman, maka ia masih saudara kita, dan sungguh pantas bagi kita untuk mendoakannya.

Orang tua kita, ayah, ibu, paman, bibi, mungkin mertua merupakan obyek dakwah yang strategi. Kelompok inilah yang akan memberikan dukungan utuh bila aktivis muslim terhimpit cobaan dan ujian dakwah. Ini terjadi jika ortu sudah terkondisikan untuk dapat menerima dakwah. Sebaliknya, jika kelompok ini diabaikan maka boleh jadi akan menjadi bumerang bagi kita. Di sinilah perlunya kehati-hatian. Pendekatan yang salah dapat menimbulkan ekses yang tak sehat antara kita dengan orang tua. Bahkan tak jarang hubungan jadi terputus hanya karena kesalahan awal pada pendekatan.

IV. KESIMPULAN

1. Para da’i di jalan Alloh tidak akan mundur oleh perlawanan apapun, karena ia telah mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk itu, mereka memiliki ketajaman pikiran dan kompetensi dibidang ini, tercakup dalam apa yang disebut sebagai “hidayah kebenaran” dengan hujjah yang matang, sehingga dengan gampang membedakan antara yang haq dan yang bathil.

2. Mengemukakan masalah tauhid dan syirik, iman dan kekafiran jelas dan tegas, tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa rasa takut, mengahadapkan persoalan ini kepada ummat manusia dan menentang kebatilan mereka.

3. Berusaha mengungkapkan bahwa yang batil adalah batil dengan cara yang tak terbantahkan, dengan argumentasi yang kuat, semuanya dijelaskan tanpa ada rasat takut ataupun khawatir.

4. Keyakinan yang kokoh akan perlindungan dan pertolongan Allah, pada waktu dan tempat yang tepat, karena adalah kehendak Ilahiyah yang maha tinggi.

5. Penentangannya terhadap Raja yang mengklaim dirinya memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Dalam hal ini Ibrahim telah membentengi dirinya dengan argumentasi yang kuat dan dapat mematahkan segala argumentasi lawan bicaranya dengan telak. Hal ini tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 258 :

A. Bahwa para Da’i kepada Allah akan mendapatkan perlawanan pertama kali adalah dari para penguasa yang cenderung untuk lupa diri dan tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka. Tapi memang demikianlah manusia, suka melebihi batas kalau melihat dirinya berkecukupan.

B. Untuk mendapatkan argumentasi dan sandaran kebenaran yang tidak tergoyahkan, maka seorang da’i tentunya harus memperluas ilmu pengetahuannya, sehingga setiap masalah dapat dimengerti ujung pangkalnya.

C. Allah selalu bersama dengan kebenaran, bersama para da’i yang membuat musuh-musuhnya bungkam dan klaim mereka terpatahkan.

D. Menolak melakukan ibadah kepada selain Allah bagi para hamba, walaupun orang yang dihadapi seorang da’I adalah ayah atau ibunya sendiri dimana mereka adalah manusia yang paling dekat dengan hubungan darah. Tetapi kebenaran diletakan diatas segalanya, termasuk hubungan darah, hubungan ayah-anak, hubungan kekerabatan atau apapun.

E. Menggunakan saran dan jurus yang tepat dalam menghadapi para penyembah tuhan selain Allah untuk mengalahkan hujah mereka. Ibrahim batal menuhankan bintang, bulan dan matahari karena semua tenggelam, walaupun bulan tampak lebih besar dari bintang dan matahari tampak lebih perkasa dari pada bulan tetapi karena sama-sama tenggelam dan tidak muncul lagi kecuali waktunya yang sudah ditentunkan maka Ibrahim menggugurkan ketuhanan benda-benda langit tersebut. Kemudian menemukan definisi tentang tuhan, yang pasti tuhan sebenarnya tidak mungkin tenggelam atau sirna, karean dia adalah tuhan langit dan bumi, tuhan manusia dan segala yang ada. Setelah itu ibrahim mendeklarasikan ketidak terlibatannya dalam ke musyrikan.

F. Ainul Yaqiin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan inspirasi kepada penyeru kepada- NYA untuk memperkuat hujjah mereka, Allah akan selalu mendukung dan meninggikan derajat bagi mereka yang bersabar dan selalu berharap kepada Allah. Itulah janji Allah kepada para da’i illaalah di setiap saat sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat al-qur’an al- kariem.

G. Hakikat seluruh permukaan bumi ini adalah milik Allah, maka setiap da’i tidak boleh merasa asing atau tersiksa diluar tanah kelahirannya, sepanjang dia datang ketempat itu dalam rangka dakwah ilallah. Hal itu sama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Ibrahim telah mengembara dari irak, palestina, yordan, hejaz, mesir dan palestina untuk kedua kalinya.

H. Hijrah yang dicontohkan Nabi Ibrahim diniatkan karena Allah dan menuju kepada-Nya (melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya). Hijrah bukan untuk mencari keselamatan atau mencari kemegahan, atau untuk tujuan-tujuan duniawi.

I. Para dai selalu dan selamanya harus mencari “tanah garapan” yang baru, dimana dia bisa menyeru kepada Allah . ini dilakukan bila misalnya telah “sempit” di kediamannya semula.

J. Paham yang benar tentang kecintaan pada tanah air adalah tempat mana suara kebenaran terdengar nyaring dan disembah didalamnya Allah semata, tiada sekutu baginya.

V. REFERENSI

i. Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

ii. Syamsuddin Noor, S.Ag, Dahsyatnya Doa Para Nabi

iii. Abu Nizhan, Buku Pintar Al-Qur`an - Halaman 158

iv
. Shalat for Character Building - Halaman 159

v. Nafron Hasjim, W. A. L. Stokhof – 1993, Kisasu l-Anbiya: karya sastra yang bertolak dari Quran serta teks kisah Nabi - Halaman 327

vi. Dr. Jerald F. Dirks, Abrahamic Faiths - Halaman 46

vii. Fadlun Amir – 1990, Kapita selekta mutiara Islam - Halaman 76

viii. Firdaus A. N. – 1991, Panji-panji dakwah - Halaman 19

ix. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Serial media dakwah - Halaman 31

x. Zainuddin, Mahfudh Syamsul Hadi M. R., Muaddib Aminan A. R., Cholil Uman – 1994,
xi. Rahasia keberhasilan dakwah K.H. Zainuddin M.Z. - Halaman 131

xii. Ibn Taymiyyah, Jangan Biarkan Penyakit Hati Bersemi - Halaman 204

xiii. Abdul Hadi Awang , Beriman Kepada Rasul - Halaman 26

xiv. e-books: http://www.google.com/books?hl=en&uid=11984674828539566613

xv. Andri blogspot : http://andrihardiansyah.blogspot.com/

PENELITIAN DAKWAH

Posted on November 6th, 2008 in Dakwah by aandry-neney
PENELITIAN
ANALISA AKTIVITAS SERTA EFEKTIFITAS KEGIATAN DAKWAH DI GG. SASAK WARU KELURAHAN KEBONLEGA
KECAMATAN BOJONGLOA KIDUL KOTA BANDUNG
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini memiliki kewajiban untuk berdakwah. Karena berdakwah merupakan salah satu aktivitas yang menunjukan kualitas value atau nilai umat manusia, tentu saja dakwah yang dimaksud adalah dakwah islam, dakwah yang senantiasa mengajak mad’u untuk ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ’anil munkar ”mengajak manusia kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan”. Seperti yang telah Alloh serukan dalam Firmannya, “ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran:110). Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa kita sebagai umat manusia seorang sudah digariskan untuk berdakwah setelah Rasululloh wafat, untuk merubah suatu situasi yang buruk ke situasi yang lebih baik, menggugah hati manusia untuk berbuat kebaikan serta dakwah ini merupakan suatu petunjuk agar manusia tidak terjebak kedalam lembah kenistaan.Adapun dakwah yang dilakukan hendaknya dengan metode dan media yang sesuai dengan keadaan orang yang di dakwahi (mad’u).
Allohu Karim telah berfirman di dalam Al-qur’an, “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An-Nahl:125). Ayat tadi berisi panduan khusus mengenai berdakwah yang cerdas. Sekalipun dakwah kepada Allah merupakan amal shalih, tetapi seorang aktivis dakwah dalam mengerjakan tugasnya tidak boleh dilakukan dengan secara serampangan. oleh karena itu seorang aktivis dakwah harus cerdas dalam menjalankan tugasnya. karena, berdakwah bukan pekerjaan biasa, tetapi dakwah merupakan pekerjaan yang sangat mulia, menuntut perhatian khusus dengan beberapa cara penyampaian yang kreatif. Jika tidak, dakwah tersebut akan kontra produktif. Seorang Da’i, harus mampu mengenal mad’u, menguasai materi dakwah yang akan disampaikan, serta harus menyesuaikan metode yang digunakan dengan mad’u atau sasaran dakwah.

Mudah-mudahan dengan penelitian ini bisa menjadi salah satu sajian alternatif untuk menyusur keadaan mad’u yang akan dihadapi, serta beberapa cara mengatasi kegagalan dakwah dan untuk meningkatkan kualitas dakwah seorang da’i. Kendati pun kini aktifitas dakwah di mesjid Nurul Huda yang saya analisa mengalami penurunan kualitas dakwah. Penelitian ini saya susun berdasarkan observasi langsung dengan jangka waktu yang berkala, penelitian ini saya gabungkan pula dengan beberapa catatan dakwah saat menjadi aktivis dakwah di tempat saya tinggal dulu, sedangkan untuk kerangka penelitian yang saya lakukan berkaca kepada penelitian rekan saya Ade Susilawati. Diharapkan dengan rampungnya laporan penelitian ini dapat menjadi salah satu syarat untuk memenuhi perbaikan nilai ujian akhir mata kuliah Sejarah Dakwah.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
 Untuk Mengenal karakter mad’u di lingkungan sekitar Masjid Nurul Huda
 Untuk mengetahui penerapan metode yang sesuai dengan karakter mad’u dalam melakukan kegiatan dakwah
 Untuk mengetahui faktor keberhasilan dan kegagalan dalam berdakwah
 Untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam mengatasi kegagalan dakwah, demi menciptakan dakwah yang berkualitas

b. Manfaat Penelitian
Diharapkan dengan peneliatan ini dapat menjadi panduan dasar bagi seorang da’i untuk mengetahui dengan sistematis mengenai upaya da’i dalam setiap melakukan kegiatan dakwah, sehingga seorang da’i dapat mengimplementasikan setiap metode dakwah yang dimilikinya dilingkungan masyarakat, dengan tanpa adanya penolakan dari mad’u yang dihadapinya, dengan harapan yang lebih jauh mad’u dapat mengimplementasikan maudu’ (pesan dakwah) dalam kehidupannya sehari-hari.

1.3 Metodologi Penelitian
a. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun pengertian metode kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati.

b. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Masjid Nurul Huda Gg. Sasak Waru Kelurahan Kebon lega Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung. Adapun waktu penelitian dilakukan Secara Berkala dari bulan Juli 2008 hingga Oktober 2008.
1.4 Sistematika Penelitian
Penelitian ini di bahas dalam lima bab, yaitu sebagai berikut:

Bab I: merupakan pendahuluan yang menjelaskan, Latar Belakang, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Metodologi Penelitian, sistematika Penulisan;

Bab II: Dalam bab ini di bahas tentang Komponen Unsur-unsur Dakwah yang meliputi; Pengertian Dakwah, Subjek Dakwah (dai), Pesan Dakwah (Maudu), Metode Dakwah (Uslub), Media Dakwah (Wasilah), Objek Dakwah (Mad’u)

Bab III: Dalam Bab ini dibahas tentang Tinjauan Umum Gg. Sasak Waru Kelurahan Kebon lega Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung, serta mengenai faktor Keberhasilan dan Kegagalan dalam Kegiatan Dakwah di lingkungan tersebut. Yang meliputi; Identitas Gg. Sasak Waru, Karakteristik dan Kondisi Mad’u Gg. Sasak Waru, Faktor Keberhasilan dan Kegagalan dalam Berdakwah di Mesjid Nurul Huda.

Bab IV: Upaya untuk Mengatasi Kegagalan Dakwah dan untuk Meningkatkan Kualitas Dakwah di Masjid Nurul Huda Gg. Sasak Waru Kelurahan Kebon lega Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung.. Yang meliputi; penawaran solusi untuk untuk meningkatkan kualitas dakwah di kawasan tersebut.

Bab V: merupakan bab penutup yaitu kesimpulan

BAB II
KOMPONEN UNSUR-UNSUR DAKWAH

2.1 Pengertian Dakwah
Dakwah menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah penyiaran; propaganda; penyiaran agama di kalangan masyarakat dan pengembangannya; seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama.
Menurut rumusan musyawarah kerja Nasional ke I Pendidikan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) di Jakarta Bulan Mei 1968; dakwah berarti mengajak atau menyeru untuk melaksanakan kewajiban dan mencegah kemunkaran, merubah umat dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik dalam segala bidang, merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang pribadi, keluarga, kelompok, atau massa serta bagi kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan tata hidup bersama dalam rangka pembangunan bangsa dan umat manusia.
Dakwah adalah beberapa cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut “Da’i” sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut “Mad’u”. Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah “Da’i”.
Dakwah dilihat dari segi bahasa (etimologi) merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu da’a yad’u da’watan, yang berarti seruan, ajakan, panggilan, undangan, dan do’a. Dalam arti proses penyampaian pesan-pesan tertentu berupa ajakan, seruan, undangan, untuk mengikuti pesan tersebut. Selain itu karena dalam kegiatannya ada proses penyampaian sering disebut juga tabligh, orangnya disebut mubaligh. Dalam proses dakwah tersebut, orang yang mengajak disebut dai, dan orang yang diajak disebut mad’u.
Sedangkan pengertian dakwah menurut istilah diantaranya dapat mengambil dari surat An-Nahl (16), al-baqarah (208), al-maidah (67), al-ahzab (33),
dan al-imran (104 dan 110), yaitu dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah (sistem islam) secara menyeluruh; baik dengan lisan, tulisan, maupun dengan perbuatan sebagai ikhtiar (upaya) muslim mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan pribadi (insan kamil), keluarga (khoiru usroh), masyarakat dalam semua segi kehidupan secara menyeluruh sehingga terwujud khoirul ummah (masyarakat madani).
Kata dakwah berarti menyeru, atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebaikan dan melarang perbuatan yang munkar yang dilarang oleh Allah swt dan Rasul saw.
Syekh Ali Mahfuz murid Syekh Muhammad Abduh memberi batasan dakwah sebagai:
”Membangkitkan kesadaran di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar, supaya mereka beroleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Dakwah merupakan sunnah para nabi a.s mereka menyeru manusia kepada subul-as-salam (jalan kebahagiaan), menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus, sehingga manusia menerima seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw. Adapun hukum berdakwah adalah wajib dan kewajiban ini tertaklif pada setiap muslim dan muslimat di setiap masa. Terutamanya di zaman ini dakwah menjadi wajib, karena umat islam pada hari ini terbelenggu kepada serangan, pengaruh serta intrik jahat yang anti agama Allah (orang-rang kafir) yang bertujuan menyabut teras dakwah Islam dari jiwa umat Islam. Menyeru kepada manusia kejalan Allah adalah satu kemuliaan besar kepada pendukung dakwah.
Firman Allah swt;
”siapakah yang lebih baik perbuatannya daripada orang yang menyeru kepada jalan Allah swt, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (al-fushilat:33)
Menyeru manusia ke jalan Allah menghasilkan pahala yang besar dan tidak ternilai sebagaimana pengakuan Rasul saw:
”jika Allah swt memberi hidayah kepada seorang lelaki lantaran anda, itu lebih baik bagimu daripada setiap apa yang disinari matahari” (H.R At Tabrani)
Firman Alloh :
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)

2.2 Subjek Dakwah (Dai)
Kata Da’i berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang mengajak. Menurut Istilah Da’i adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, ataupun perbuatan kearah kondisi yang lebih baik menurut ajaran Islam. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia Da’i adalah orang yang kerjanya berdakwah; pendakwah: melalui kegiatan dakwah , menyebarluaskan ajaran agama. Da’i dalam istilah lain disebut sebagai subjek dakwah, seorang Da’i harus memiliki keistiqomahan dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyeru kepada jalan yang benar dengan cara-cara yang sesuai dengan Al-quran.
Da’i adalah serang pemandu bagi orang-orang yang ingin mendapat keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Oleh karena itu seorang dai memiliki kedudukan yang sangat penting di tengah-tengah masyarakat, dia menjadi figur bagi masyarakat. Pada dasarnya seorang Da’i memiliki tugas yang pokok yaitu meneruskan tugas rasul Muhammad saw, sebagai pewaris nabi yaitu menyampaikan ajaran Allah seperti yang termuat dalam Al-Quran, dan juga menyampaikan ajaran Rasul saw (as-sunnah).

2.3 Pesan Dakwah (Maudu)
Pesan atau materi dakwah adalah pesan-pesan atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh Da’i kepada mad’u, yaitu keseluruhan ajaran Islam, yang ada di dalam Kitabullah maupun sunnah Rasul-Nya. Secara umum pokok isi Al-Quran meliputi:
1. akidah
2. ibadah
3. muammalah
4. akhlak
5. sejarah
6. prinsip-prinsip pengetahuan dan teknologi, yaitu petunjuk-petunjuk singkat yang memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan analisa dan mempelajari isi alam dan perubahan-perubahannya.
7. lain-lain berupa anjuran-anjuran, janji-janji, ataupun ancaman

2.4. Metode Dakwah (Uslub)
Di dalam al-Quran, ayat yang menyebut perkataan uslub sebenarnya tidak ada. Apa yang ada ialah pemahaman yang boleh diambil sewaktu Allah swt berfirman memerintah manusia menyeru ke jalan-Nya. Firman Allah swt yang bermaksud:
”serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahasalah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk”. (an-Nahl;125)
Apabila persoalan uslub didalam ayat tersebut diletakkan selepas daripada seruan dakwah, ayat tersebut menunjukkan bahwa uslub adalah perkara ke dua. Perkara paling utama adalah menyeru manusia terlebih dahulu, barulah berbincang mengenai uslub dakwah.
Perkataan uslub secara jelas tidak disebut dalam Al-Quran, namun begitu perkataan yang hampir sama dengan pengertian uslub telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:
”wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan carilah yang boleh menyampaikan kepada-Nya (dengan mematuhi perintahnya dan menjauihi larangan-Nya) dan berjuanglah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam) supaya kamu beroleh kejayaan.” (Al-maidah:35)
Pengertian Metode dalam kamus besar bahasa indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (di ilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Di dalam buku Dasar-dasar Ilmu dakwah karangan Aliyudin, M.ag metetode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos, merupakan gabungan dari kata meta yang berarti melalui, mengikuti, sesudah, dan kata hodos berarti jalan, cara. Jadi metode artinya suatu cara atau jalan termasuk strategi, pola yang ditempuh oleh seorang dai dalam melaksanakan dakwah.
Pada prinsipnya metode dakwah berpijak pada dua aktivitas yaitu aktivitas bahasa lisan/tulisan dan aktivitas badan. Aktivitas lisan dalam mennyampaikan pesan dapat berupa metode ceramah, diskusi, dialog, petuah, nasehat, wasiat, ta’lim, peringatan, dan lain-lain. Aktivitas tulisan berupa penyampaian pesan dakwah melalui berbagai media massa cetak (buku, majalah, koran, pamflet, dan lain-lain). Aktivitas badan dalam menyampaikan pesan dakwah dapat berupa berbagai aksi amal sholeh contohnya tolong-menolong melalui materi, lingkungan, penataan organisasi atau lembaga-lembaga keislaman.
Menurut jamaluddin kafie yang dikutip dari buku Dasar-dasar Ilmu Dakwah (Aliyudin, M.ag) metode klasik yang masih tetap up-to-date adalah:
1. metode sembunyi-sembunyi, pendekatan kepada sanak keluarga terdekat
2. metode bilisan, bilqalam,bilhal
3. metode bilhikmah, mauidah hasanah, mujadalah bi alati hiya ahsan
4. metode tabsyr wa al-tandzir, amar ma’ruf nahi munkar, ta’awanu ala al-biri wa al-taqwwa, wala ta’awanu ala al-ismi wa al-udwan, dalla ala al-khair, tawashau bi al-haq wa al-sabr, tadzkirah.

2.5 Media Dakwah (Wasilah)
Media dakwah adalah instrument yang dilalui oleh pesan atau saluran pesan yang menghubungkan antara dai dan mad’u. Pada prinsipnya dakwah dalam tataran proses, sama dengan komunikasi, maka media pengantar pesan pun sama. Media dakwah berdasarkan jenis dan peralatan yang melengkapinya terdiri dari media tradisional (gendang, rebana, bedug, siter, suling, wayang, dll), media modern (telephone, radio, tape recorder, surat kabar, buku, majalah, brosur, poster, dan pamplet), dan perpaduan kedua media tradisional dan modern (wayang, sandiwara yang bernuansa Islam dan ditayangkan televisi).

2.6 Objek Dakwah (Mad’u)
Objek dakwah adalah
manusia, mulai dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum, massa, dan umat manusia seluruhnya.
Manusia sebagai objek dakwah dapat digolongkan menurut kelasnya masing-masing serta menurut lapangan kehidupannya.

2.7 Keutamaan Dakwah

Beberapa keutamaan dakwah adalah :

1. Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul alaihimussalam)

Para Rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt. untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya amalan dakwah ini kepada manusia Rasulullah saw, saudara-saudara beliau para nabi serta rasul – rasul lainnya.

“Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf (12): 108).

Ayat di atas menjelaskan jalan Rasulullah saw. dan para pengikut beliau adalah jalan dakwah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau saw. ia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.

Tentang Nabi Nuh as. Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak kenal henti dalam menjalankan tugas berdakwah siang dan malam:

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi (menyeru) kaumku malam dan siang.” (Nuh (71): 5).

Tentang Nabi Ibrahim as. Allah mengisahkan dakwah yang beliau lakukan kepada ayah dan ummatnya:

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”. Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Asy-Syuara (26): 69-82).

Tentang Nabi Musa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, diantaranya:

“Dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.” (Az-Zukhruf (43): 46-47).

Tentang Nabi Isa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam firman-Nya:

“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[1] dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf (43): 63-64).

Pintu kenabian dan kerasulan memang sudah tertutup selama-lamanya, namun kita masih dapat mewarisi pekerjaan dan tugas mulia mereka, sehingga kita berharap semoga Allah swt. berkenan memuliakan kita.

2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang Terbaik)

Dakwah adalah amal yang terbaik, karena da’wah memelihara amal Islami di dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal sholeh adalah amal da’wah, sehingga da’wah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa da’wah ini maka amal sholeh tidak akan berlangsung.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: Allah swt menyeru manusia: “Wahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.” (Tafsir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al-Quran, 21/468).

Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan yang terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul alaihimussalam.

Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran :

“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan. Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…” (Fi Zhilal Al-Quran 6/295).

Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri al-‘azhim).

Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (da’wah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad).

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”

Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah swt. lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.

Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).

Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!

Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadits tersebut juga mengutip ucapan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:

“Seorang yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) akan dipanggil sebagai orang besar (mulia) di kerajaan langit.”

Keagungan balasan bagi orang yang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.

Perhatikan sabda Rasulullah saw. berikut ini:

“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. D
an barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah ra).

BAB III
TINJAUAN UMUM AKTIVITAS SERTA EFEKTIFITAS KEGIATAN DAKWAH DI MASJID NURUL HUDA GG. SASAK WARU KELURAHAN KEBONLEGA
KECAMATAN BOJONGLOA KIDUL KOTA BANDUNG
3.1 Identitas GG. SASAK WARU
Sejarah asal mula Gg. Sasak Waru Kel. Kebonlega Kec. Bojongloa Kidul Kota Bandung, secara historis nama gang ini belum pernah diakui keberadaannya, pasalnya jika diamati secara geografis, tata letak gang ini merupakan bantaran anak sungai citepus yang melintasi jalan Soekarno-Hatta, sehingga jalan setapak yang berada di pinggiran sungai ini sering dijadikan jalan warga yang akan menuju ke arah cibaduyut atau menuju komplek pegawai serta LP Banceuy Soekarno Hatta, jika siang hari saja, pasalnya jika waktu maghrib telah tiba tidak ada yang berani melintasinya karena begitu gelap dan sunyi, mengingat di daerah tersebut hanya terdapat empat rumah warga saja.
Namun sekitar tahun 1995 keberadaan kawasan tersebut menjadi ramai setelah beberapa tanah kosong di daerah tersebut dibeli oleh seorang bandar domba yang bernama H. Iyon, jika ditinjau dari segi pengembangan masyarakat kedatangan H. Iyon ke daerah tersebut nampaknya membawa perubahan yang cukup signifikan, pasalnya setelah beliau membangun rumahnya, beberapa bulan kemudian diatas tanah sekitar 5 tumbak Masjid yang cukup sederhana pun dibangun. Walaupun hanya berdinding bilik, Masjid tersebut atas dasar keprihatinan beliau melihat beberapa warga asli di sana yang kurang begitu memahami tentang Islam. H. Iyon pun merasa bingung untuk menamakan memberi nama masjid tersebut, hingga pada akhirnya sepakat dengan warga sekitar untuk mengukuhkan nama masjid tersebut dengan ”Nurul Huda”. ”Nurul’ artinya cahaya dan ”Huda” artinya petunjuk.
Masjid pun digunakan untuk beribadah sehari-hari, seperti sholat berjamaah, pengajian anak-anak, rapat warga terkecuali ibadah jum’at. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, selain karena masalah jumlah penduduk yang hanya berjumlah tidak lebih dari 20 orang ketua DKM Nurul Huda Ust. Toha, mempunyai pemahaman bahwa jamaah pelaksanaan ibadah Jum’at minimal berjumlah 40 orang, maka di masjid itu tidak dilaksanakan ibadah jum’at, tetapi setelah banyak warga yang berdatangan kegiatan ibadah jum’at pun digelar, bahkan warga dari luar sekitar Masjid Nurul Huda seperti para pegawai LP serta warga perkampungan blok haji Entang turut pula melakukan ibadah jum’at di masjid tersebut, tidak hanya itu kelompok remaja maupun anak-anak dari dalam maupun luar lingkungan Masjid mengikuti pengajian ba’da maghrib yang di pimpin oleh Ust. Toha.
Secara administratif keberadaan warga yang berada di sekitar Masjid Nurul Huda belum terdaftar sebagai penduduk, namun diakui letak geografisnya masih berada di lingkungan RT 01 RW 09 Kel. Kebonlega Kec. Bojongloa kidul Bandung. Belum terdaftarnya akibat dari terlalu luasya daerah kepengurusan yang dimiliki RW 09 sehingga kurang terperhatikan oleh para pengurus daerah setempat. Namun dikemudian hari warga pun sepakat agar segera memberi nama daerah tersebut, hingga pada akhirnya muncul nama Sasak Waru, nama ini diambil dari letak geografis gang tersebut, karena di depan gang ini terdapat sebuah jembatan yang berdempetan dengan tangkal waru, maka disebutlah daerah tersebut sasak waru.
Gang ini merupakan jalan hidup, sangat strategis keberadaannya untuk jalan pintas dari jalan raya Soekarno-Hatta. Namun Populasi di gang sasak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan banyaknya pendatang yang menempati beberapa lahan kosong, terutama banyak para pendatang memberanikan diri mendirikan bedeng di atas sungai, kendati melanggar namun pihak kecamatan tifdak pernah memberikan sangsi yang tegas dengan keadaan ini. Sasak Waru didominasi oleh etnis Sunda, yang berjumlah 276 orang (99,9%) dan etnis jawa sebanyak 1 orang sehingga seluruhnya jumlah penduduk di desa ini adalah 277 orang. Etnis sunda yang berada di gang ini, pada umunya berasal dari Garut, Tasikmalaya dan Kab. Bandung, sedangkan Orang jawa tersebut datang dari cilacap untuk mencari nafkah sebagai tukang becak.
Di desa ini mayoritas penduduknya adalah pedagang (75%), buruh serabutan 15%, dan tukang becak 5% , sedangkan 5% lainnya berprofesi sebagai PNS dan kuli. Adapun luas wilayah dari gang ini adalah 200 m2. Sekitar 100% penduduk gang ini adalah pemeluk agama Islam, warga muslim ini umumnya berpedoman pada tata cara beribadah Nahdatul Ulama (NU) Selain NU, terdapat pula yang berpedoman pada tata cara beribadah ajaran PERSIS. Tapi yang menarik adalah penduduk asli gang ini sangat awam terhadap Agama Islam, hal itu terlihat saat masjid ini didirikan aktualisasi beribadah dari warga asli yang minoritas tampak kurang antusias.
Keberadaan Muslim di gang ini dipimpin oleh Ust. Toha kakanya H. Iyon pendiri Masjid nurul Huda. sama halnya dengan H. Iyon, Ust. Toha berasal dari Rajapolah Tasikmalaya, bermaksud pula mencari nafkah di Kota bandung. Namun karena hatinya sudah tertambat di masjid, maka sehari-hari beliau lebih mencurahkan waktunya untuk mengurus Masjid Nurul Huda. Upaya Ust. Toha mengajak masyarakat untuk beribadah belum begitu diperhatikan secara serius, hal tersebut nampak jelas saat sholat idul fitri yang pertama kalinya digelar. Masih banyak ditemui warga sekitar yang berada dirumahnya bahkan tanpa rasa malu melintas mondar-mandir di sekitar tempat pelaksanaan sholat idul fitri digelar, padahal jauh-jauh hari pada saat bulan Ramadhan Ust. Toha menggembar-gemborkan tentang hikmah sholat sunnat idul fitri namun sebagian besar penduduk tidak menggubrisnya, tidak hanya itu banyak ditemui pula penduduk yang melalaikan sholat wajib, tidak berpuasa.
Seiring dengan berdirinya Masjid Nurul Huda, Ust. Toha tidak patah semangat untuk berdakwah, namun tetap saja sebagian besar penduduk sekitar masih percaya dengan mitos dan takhayul. Contohnya setiap malam jum’at sebagian masyarakat membakar kemenyan dan membaca ”jangjawokan” dan menaburkan garam disekitar rumah mereka. Mereka meyakini bahwa dengan melakukan ritual tersebut dapat membawa keberkahan bagi rumah mereka.
Saat itu nampaknya strategi dakwah yang dilakukan oleh Ust. Toha lebih fokus ke anak-anak, dengan tujuan masa depan mereka dari hal-hal yang dilarang agama. Dengan pengajian rutin yang dilakukan Ust. Toha dengan didampingi oleh ketiga rekannya Ust. Engkus, Ust. Jajang, dan Ust. Ujang mencoba menanamkan nilai-nilai keislaman, serta akidah secara bertahap. Kendatipun hal tersebut dilakukan namun kerap kali mendapatkan issue-issue negatif yang mengarah kepada ghibah di masyarakat, seperti halnya dituduh mengganggu santri putri saat pengajian, menyalahgunakan uang kencleng, hal tersebut terjadi beberapa kali.
Namun tanpa disadari beberapa tahun kemudian pola pikir masyarakat pun berubah, karena yang dulunya santri anak-anak bimbingan Ust. Toha telah beranjak dewasa, sehingga dari mulai perilaku mereka yang biasa berlaku tidak sopan, berkata-kata yang kurang baik menjadi perilaku sesuai dengan tuntunan agama Islam, akhlak yang tertanam dalam benak santri Ust. Toha ini tercermin di setiap pribadi santri, terutama tentang pergaulan dan berbakti kepada orang tua, dengan perilaku islami yang ditonjolkan, mampu merubah pemikiran para orang tua Santri dan tertarik untuk mempelajari tentang Islam.
Dengan situasi lingkungan Islami yang kian lama menjadi kondusif, Ust. Toha pun menggelar pengajian dewasa yang digelar setiap malam jum’at, jamah dewasa pun berangsur bertambah walaupun pengajian yang disuguhkan hanya membaca surah Yasin dan berdo’a bersama. Dengan pengajian rutin yang digelar setiap malam jum’at tersebut, kapasitas jama’ah pun kian tidak tertampung, hal ini memberikan suatu motivasi bagi masyarakat untuk merenovasi mesjid, masyarakat Sasak waru kian gemar bershodaqoh, hingga pada akhirnya
mampu memperindah infrastruktur masjid Nurul Huda, yang semula hanya berdinding bilik kini berbeton dan berlantai keramik.
Dengan adanya perbaikan tampilan Masjid Nurul Huda, memberikan motivasi kepada tiap warga gang lain yang melewati sasak waru, untuk mendirikan Masjid. Saat ini di sekitar Sasak Waru terdapat 4 mesjid, yaitu ; masjid Al-Hikmah RT 04, Al-Miftah di RT 06, Nurul Hidayah di RW 10, Al-Huda RW 10. Di masing-masing Mesjid tersebut kini kian aktif diselenggarakan kegiatan keagamaan rutin harian maupun jika ada peringatan hari besar. Terakadang masing – masing DKM masjid saling mengundang jika ada ceramah umum atau Tabligh akbar.

3.2 Karakteristik dan Kondisi Mad’u Gang Sasak Waru

Karakteristik adalah suatu ciri khas yang dimiliki oleh seseorang/lembaga organisasi yang sudah melekat padanya. Oleh karena itu, karakteristik warga di masa datang hanya bisa di rencanakan, sulit untuk ditentukan, dengan adanya kemajuan berbagai informasi yang demikian pesat pada dasawarsa terakhir ini telah membawa kemajuan dan perubahan disegala bidang, namun tidak bisa dipungkiri pesat informasi pula dapat berpengaruh negatif bagi satu komunitas pada masa yang akan datang. Karakteristik dapat menjadikan pembeda antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya, karakteristik pada manusia menunjukkan pembeda atau ciri terhadap manusia dengan manusia yang lainnya.
Karakteristik ini dapat dilihat dari prilaku manusia yang menjadi watak, sifat dan tingkah laku yang melekat pada manusia tersebut. Sedangkan kondisi merupakan salah satu hal yang menunjukkan suatu keadaan yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Kondisi mempunyai banyak ragam, kondisi yang baik, kondisi yang buruk, dan lain sebagainya.
Adapun karakteristik dan kondisi Gang Sasak Waru adalah:
1. Mayoritasnya tingkat pendidikan warga Gang Sasak Waru sangat rendah, rata-rata tingkat pendidikan akhir adalah Sekolah Dasar, sehingga mereka memiliki wawasan yang kurang.
2. Di Gang Sasak Waru ini juga ada kecenderungan dikalangan masyarakat yang sebagian besarnya enggan mempelajari Islam. Terutama penduduk asli mereka mempelajari falsafah hidup atas dasar pemahaman dan tradisi orang tua mereka, mereka menganggap untuk mempelajari Islam sangat sulit.
3. Mempunyai motivasi yang sangat rendah untuk mempelajari Islam, mengingat puluhan tahun di gang tersebut tidak ada masjid.

3.3 Faktor Keberhasilan dan Kegagalan dalam Berdakwah di Gang Sasak Waru
1. Faktor keberhasilan dakwah di Gang Sasak Waru
Dari pantauan dilapangan, ada beberapa faktor yang dapat dikatakan sebagai faktor keberhasilan dakwah di Gang Sasak Waru , antara lain adalah seorang da’i menyampaikan ajaran Islam dengan istiqomah pada generasi muda dan anak-anak, mengingat generasi muda masa mencari jati diri sedangkan anak-anak sangat mudah untuk dipengaruhi sehingga secara bertahap dapat menjadi median dakwah bagi da’i, walaupun hanya dengan penekanan bakti kepada orang tua dan lingkungan sekitar. Sehingga efektifitas dakwah berlangsung lamban kepada mad’u dewasa, karena orang tua di gang sasak waru lebih menerima saat anaknya beranjak dewasa saat menjadi pemuda atau pemudi yang sholeh yang menjadi cerminan bagi orang tuanya, kita mengenal strategi dakwah yang digunakan adalah Dakwah bilhaal.
Bagi lingkungan sekitar dakwah yang dilakukan secara konsisten oleh Ust. Toha mampu mengkontrol hal-hal yang dilarang oleh agama, terlihat banyak faktor keberhasilan para dai dalam melakukan kegiatan dakwahnya seperti halnya pelaksanaan ibadah rutin, pengajian, renovasi masjid hingga mampu memberikan motivasi lingkungan sekitar gang untuk mendirikan masjid.

2. Faktor kegagalan dakwah di Gang Sasak Waru
Beberapa faktor kegagalan da’i dalam melakukan kegiatan dakwah terhadap mad’u, di lingkungan ini dapat diamati sebagai berikut :
a) Di Gang Sasak Waru ini da’i lebih cenderung mengajarkan Islam beberapa bagian saja, Ust. Toha hanya mengajarkan Akhlaq dan cara membaca Al-qur’an, sehingga wawasan tentang Islam pun sangat sempit.
b) Sebagian dakwah terutama dikalangan remaja dan anak-anak lebih banyak diberikan materi pengajian, tanpa diberikan cara menyampaikannya. Keadaan ini menjadikan remaja tersebut hanya dapat mengimplementasikan ajaran hanya untuk dirinya pribadi bukan untuk orang lain, sehingga tidak terjadinya regenerasi.
c) Masih kentalnya egoisme organisasi, sehingga da’i tidak mampu mengakomodir organisasi islam lainnya. Jelas hal tersebut mengakibatkan terkotak-kotaknya umat.
d) Timbulnya rasa memiliki yang tinggi pada diri DKM. Sehingga hingga saat ini tidak ada pergantian kepengurusan, hal tersebut mengakibatkan kepercayaan jam’ah berkurang, seiring dengan hal ini jamaah pun berkurang.
e) Munculnya sifat futur pada diri da’i, Secara Etimologi arti futur adalah : diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Sedangkan Secara Terminologis futur adalah sebuah kendala yang menimpa para aktivis dakwah. Efek terburuknya berupa, ”inqitha” (terputusnya aktivitas) setelah istimrar (kontinu) dilaksanakan. Sedangkan efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan santai, dimana sikap tersebut datang setelah sikap giat bergerak. Hal tersebut yang saat ini terjadi pula di Masjid Nurul Huda.

BAB IV
UPAYA UNTUK MENGATASI KEGAGALAN DAKWAH DAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAKWAH DI GANG SASAK WARU

4.1 Upaya untuk Mengatasi Kegagalan Dakwah GANG SASAK WARU

a. Dakwah Fardiyah
Berdakwah di gang Sasak waru hendakbnnya menggunakan pendekatan personal yang disertai emotional approach atau pendekatan emosional, teknik penekatan yang biasanya digunakan dalam pendekatan semacam ini biasanya bersifat icing (baca: aising), yaitu seni menata dakwah dengan emotional appeal sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya. Bisa dianalogikan dengan kue yang baru dikeluarkan dari panggangan yang ditata dengan lapisan gula warna-warni sehingga kue yang tadinya tidak menarik menjadi indah dan memikat. Dalam hubungan ini Da’i mempertaruhkan kepercayaan mad’u terhadap fakta pesan yang disampaikan, maka teknik ini berujung pay off atau reward, yaitu bujukan atau rayuan dengan cara “mengiming-imingi” mad’u dengan hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan. Pada umumnya emotional approach ini menggunakan konseling sebagai senjata yang ampuh, baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini bertujuan agar pesan bisa secara langsung menyentuh perasaan mad’u. Baik dari orang terdekat atau orang yang sama sekali baru dijumpai.
Metoda Emotional approach ini dalam kajian bidang dakwah terkait dengan dakwah Fardiyah (berdakwah kepada perorangan) hal ini dapat menjadi pilihan utama yang bisa dilakukan. Jika dakwah ini dilakukan Sedikitnya akan ada perubahan pada diri mad’u, namun seorang da’i harus memiliki beberapa dasar yang pertama, kematangan pemahaman atas ajaran Islam. Dengan kematangan pemahaman dan kelengkapan wawasan Islam hingga terperinci, seseorang bisa memahami pada sisi mana peluang dakwah itu bisa ditawarkan. Misalnya bila menghadapi seorang pedagang untuk dijadikan objek dakwah, maka paling tidak jalan masuk yang bisa dijajaki adalah bicara tentang sistem serta strategi berdagang sesuai dengan ekonomi Islam. Karena bagi seorang pedagang, bila disampaikan bahwa Islam mengajarkan pula tentang berdagang memberi ruang bagi peadagang bahwa pedagang mempunyai peran yang sangat penting dalam penerapan ekonomi Islam ditengah masyarakat, tentu saja dengan dakwah yang duilakukan pedagang akan merasa diakui keberadaannya di dalam ranah dakwah tyersebut. Sedangkan bila seorang dai tidak punya wawasan yang luas dan mendalam atas ajaran Islam, bisa saja da’i menyampaikan dakwah pembukanya menyinggung tentang perdagangan yang tidak islami. Alhasil pedagang tersebut menghindar atau bahkan memiliki kebencian terhadap da’i tersebut. Karena belum apa-apa sudah dilarang dan dituding-tuding. Padahal ada sekian banyak ruang yan
g bisa ditempati buat sosok pedagang di dalam ajaran Islam.
Kedua adalah kemampuan seorang da’i memahami latar belakang dan pola berpikir objek dakwah. Baik yang sifatnya internal maupun eksternal. sehingga logika dan paradigma inilah yang harus dipahami, bahkan bila perlu dikuasai untuk dijadikan hujjah dalam dakwah, yang selanjutnya mencari bantahan – bantahan logis, mudah dimengerti yang akan disampaikan untuk mengubah paradigma yang terjadi dilingkungan Mad’u. Bisa jadi seseorang tidak bisa berubah hanya dengan dijejali dengan ayat dan hadits. ayat dan hadits hanya efektif buat para ahli syariat yang sejak awal logika berpikirnya adalah mencari dasar pijakan dari Al-Quran Al-Karim dan Sunnah. Sementara bagi masyarakat Gang sasak waru masih awam dalam cara bepikir. Sehingga meski ayat-ayat ancaman, bantahan serta perintah dibacakan, belum tentu bisa menggerakkan hati mad’u. Namun kita tidak bisa pula memvonis mereka sebagai kufur terhadap kitab dan sunnah. Karena pada dasarnya seseorang bisa berubah itu karena turunnya hidayah adari Alloh. Petunjuk Allah dalam Al Quran pun sudah amat jelas, antara lain: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash ( 28 ) : 56) Dalam surah lain, ditegaskan “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang paling baik dan ramah. Sungguh Tuhanmu, Ia lah yang lebih mengetahui.” (An-Nahl ( 16 ) : 125 ).
Ketiga adalah metode dakwah yang ramah, Alloh berfirman : “Disebabkan rahmat dari Allahlah kamu bisa bersikap ramah terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran 159). Dari ayat tadi jelaslah bahwa penyampaian yang kita lakukan harus baik dan tidak terkesan ambisius. Jangan sampai dalam berdakwah fardiyah itu, objek dakwah atau mad’u langsung merasa akan dipojokan. Namun bangunlah keakraban, kedekatan dan persahabatan yang tulus dengan objek dakwah. Nabi SAW adalah orang yang paling lembut dalam membimbing manusia. Beliau tidak pernah marah atas kelemahan orang lain. Orang-orang yang selalu berdekatan dengan Rasulullah SAW hampir tidak mau berpisah setiap saat. Mereka siap untuk mendampingi beliau dimana pun. Akibat dari kelembutan itulah, para sahabat berani dan rela menjadi pendamping beliau walaupun nyawa taruhannya. Membangun simpati. menuntun manusia ke jalan Allah SWT merupakan amaliyah yang cukup pelik. Namun suatu amaliyah yang mahal ketika seorang da’i sukses melakukan dakwah fardiyyah, hal ini akan terbukti efektif. Da’i yang lemah lembut akan selalu didatangi oleh orang lain walaupun tempatnya jauh. Sedangkan, Da’i yang kasar tidak akan didekati oleh orang lain walaupun tempat tinggalnya dekat. Seorang dai yang tidak mampu bersikap ramah, hampir bisa dipastikan dia juga tidak akan mampu menarik minat orang untuk mendengarkan ceramahnya. Seorang bisa berbisnis, juga dituntut untuk mampu bersikap ramah. Pendeknya sikap ini diperlukan dalam seluruh aktivitas. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, di antaranya melalui dakwah fardiyah. Banyak pengalaman orang lain dalam merekrut orang melalui dakwah fardiyah.
b. Dakwah Bil Hal
Dakwah ibarat lentera kehidupan, yang memberikan cahaya dan menerangi jalan kehidupan yang lebih baik, dari kegelapan menuju terang benderang, dari keserakahan menuju kedermawanan. Dakwah merupakan bagian yang cukup terpenting bagi umat saat ini. Tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi dan manipulasi, ketimpangan sosial, kerusuhan, kecurangan dan sederet tindakan-tindakan lainnya. Jelas bahwa dakwah merupakan seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi yang buruk kepada situasi yang lebih baik dan sempurna.
Muhammad Natsir dalam bukunya Fiqhud Dakwah mengatakan bahwa ada tiga metode dakwah yang relevan disampaikan ditengah masyarakat yakni dakwah bi al- lisan, bi al-kalam, dan yang terakhir bil hal Dalam prakteknya dewasa ini, baru dakwah bi al-lisan yang sering dilakukan. Sementara dakwah bi al-kalam dan bi al-hal masih jauh dari harapan. Kendati demikian, dewasa ini banyak organisasi/lembaga dakwah Islam mengambil peran dalam program dakwah bi al-hal seperti Muhammadiyah. Hal ini bisa dilihat pada produk-produk yang dikembangkan oleh Muhammadiyah sebagai konsekuensi dakwahnya seperti sekolah, madrasah, panti asuhan, yatim, koperasi dan sebagainya. Dari dakwah model Muhammadiyah tersebut kita dapat melihat bahwa dakwah tidak hanya dengan cara penyampaian secara lisan, tetapi juga dengan keteladanan dengan perbuatan nyata.

Kalau kita menelaah kembali sejarah Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwahnya, beliau tidak hanya bertabligh, mengajar, atau mendidik dan membimbing, tetapi juga sebagai uswatun hasanah. Ia juga memberikan contoh dalam pelaksanaanya, sangat memperhatikan dan memberikan arahan terhadap kehidupan sosial, ekonomi seperti pertanian, peternakan, perdagangan dan sebagainya. Hal ini pula menjadi suatu jawaban untu pertanyaan mengapa Rasululloh diceritakan memiliki beberapa profesi di tengah masyarakat.

4.2 Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Dakwah di Gang Sasak Waru
Upaya untuk meningkatkan kualitas dakwah di Gang Sasak Waru. Upaya ini dilakukan untuk menarik simpati mad’u agar hatinya bisa ditembus dan siap menerima dakwah yang disampaikan. Bimbingan secara perasonal yang dilakukan oleh da’i harus dilakukan secara intens sehingga mad’u kenal dekat dengan da’i, dari sanalah materi dakwah akan diterima menjadi sebuah kebutuhan bukan menjadi sebagai pelengkap identitas keislaman dalam suatu daerah. Adapun hal yang harus dilakukan adalah :
1. Adanya badan atau kelompok orang yang terorganisasi, walaupun kecil dan sederhana. Yang dilakukan Ust. Toha di Mesjid DKM hanyalah suatu organisasi kecil, itupun masih lemah dalam tata organisasi secara administratif.
2. Adanya tenaga potensial, terdiri dari beberapa orang dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing seperti: tenaga pengelola/koordinator tenaga pelaksana di lapangan, tenaga yang berpengetahuan akademis, dan penambahan tenaga mubaligh atau guru agama, dan yang terakhir tetapi sangat penting ialah tenaga penghimpun dana. Yang dilakukan Ust. Toha selama ini semua bidang dikerjakan sendiri tanpa memperhatikan potensi yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Sehingga ketika ada suatu permasalahan Ust. Toha lemah karena di”handle” sendiri.
3. Mengembangkan dana dan sarana-sarana yang diperlukan, seperti mendirikan BMT, Optimalisasi dana zakat infaq dan sodaqoh.
4. Adanya rancangan program walaupun sederhana, yang disusun berdasarkan data-data tentang sasaran yang dituju dan sebagainya, selama ini DKM Mesjid melaksanakannya tanpa terencana yang pada akhirnya dakwah tidak terarah dan tidak efektif.
5. Adanya pendekatan terlebih dahulu dengan mad’u di dalam maupun di dalam mesjid, membina hubungan baik pula dengan instansi-instansi dan orang orang yang terkait. Seperti halnya seksi keagamaan di lingkungan RW, MUI kel dan kecamatan.

Setelah hal tersebut dipersiapkan dengan matang, maka operasional dakwah pun akan berjalan dengan lancar. Setelah tiap-tiap langkah yang dilakukan, perlu diadakan evaluasi, dalam rangka menyusun untuk langkah-langkah berikutnya yang lebih baik. Dalam membina dan membimbing masyarakat, harus digunakan pula umpan umpan itu sendiri adalah perilaku nyata seorang da’i maka, masyarakat pun akan menuruti apa yang digagas oleh seorang da’i.

BAB V
PENUTUP
SIMPULAN

Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan dakwah di Gang Sasak Waru belum efektif secara komprehensif, hal tersebut telihat pada alur dakwah yang ter
jadi bersifat fluktuatif, akhirnya mad’u kurang mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu seorang da’i dalam menghadapi mad’u, setiap gerakan dakwah perlu merumuskan perencanaan dakwah yang muatan misinya tetap sesuai dengan ajaran Islam yang dipesankan al-Qur’an dan al-Sunnah, namun orientasi programnya perlu perlu berdasarkan data empirik dari potensi, masalah, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi masyarakat. Program dan kegiatan dakwah bagi masyarakat peerkotaan harus dirumuskan secara lebih bervariasi dan lebih kongkrit berdasarkan kebutuhan, permasalahan, dan tuntutan konkrit masyarakat dakwah setempat.