HAKIKAT URGENSI SERTA ISTIADZAH DALAM DO’A
I. PENGERTIAN
Doa adalah memohon apa yang telah ditindaklanjuti dengan kelayakan, pekerjaan, dan pemikiran. menurut Rasululloh : “Doa merupakan silah (senjata) bagi kaum Mukminin. Juga, do’a adalah inti dari suatu peribadatan.” (HR. Bukhari & Muslim). Sedangkan menurut perspektif Al-qur’an Al-Quran, pengertian do’a begitu bias, seperti Abû Al-Qasim Al-Naqsabandî dalam kitab syarah Al-Asmâ’u al-Husnâ menjelaskan beberapa pengertian dari kata doa :
Pertama, do’a dalam pengertian “Ibadah.” Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.
Artinya: “Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau.”
Maksud kata berdo’a di atas adalah beribadah (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yakni kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.
Kedua, doa dalam pengertian Isti’ghotsah (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.
Artinya: “Dan berdo’alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu.”
Maksud kata ber-”doa” (wad’u) dalam ayat ini, adalah “Istighatsah” (meminta bantuan, atau pertolongan). Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.
Ketiga, Doa dalam pengertian permintaan atau permohonan (isti’anah) Seperti dalam Al-Quran surah Al-Mu’minûn ayat 60 dibawah ini.
Artinya: “Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu.”
Maksud kata “Doa” (ud’ûnî) dalam ayat ini adalah, “memohon” atau “meminta.” Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.
Keempat, Doa dalam pengertian percakapan. Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 10 dibawah ini.
Artinya: “Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Subhânakallâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan).”
Kelima, Doa dalam pengertian memanggil. Seperti firman Allah dalam Al-Quran dibawah ini.
Artinya: “Pada hari, dimana la mendoa (memanggil) kamu.”
Maksud kata doa (yad’û) dalam ayat ini adalah memanggil. Yaitu, pada suatu hari, dimana la (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.
Keenam, Doa dalam pengertian memuji. Seperti dalam Al-Quran surah Al-Isrâ’ ayat 110 dibawah ini.
Artinya: “Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang).”
Maksud kata doa (qulid’û) dalam ayat ini adalah memuji. Yaitu, pujilah olehmu Muhammad akan Allah atau pujilah olehmu Muhammad akan AR-Rahmân, maka dengan pengertian tersebut do’a bisa dikatakan pula bahwa dzikir sebagai doa
Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa doa adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya. Atau dengan istilah Al-Tîbî seperti dikutip Hasbi Al-Shidiq do’a adalah Melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah Swt.
II. HAKIKAT
Sebagai hamba Alloh, pasti kita tidak terlepas dari kegiatan berdoa. Kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah adalah bukti nyata bahwa kita membutuhkan kegiatan ini. Sering kali ketika kita mendapat suatu kesulitan yang kita sudah tidak bisa lagi untuk berbuat apa-apa kita membutuhkan sesuatu untuk tempat mengadu, sesuatu yang mengatur semuanya, sesuatu yang kita harapkan bisa memberikan kebahagian kepada kita kelak. Berdoa adalah suatu fitrah manusia yang tidak dapat kita pungkiri. Sebagai makhluk Alloh, kita bebas untuk berdoa apapun dan kapanpun.
Kita sering kali salah dalam mengganggap doa. Doa bukan hanya sekdar ucapan bias. Doa bukan merupakan sebuah mantra yang kita baca tanpa tau maksudnya. Doa harus disertai dengan ”persetubuhan ” kita terhadap doa yang kita ucapkan. Doa merupakan bagian yang terintegrasi dengan usaha. Doa tanpa usaha hasilnya akan nol besar. Doa pada hakikatnya merupakan konsultasi akhir kepada yang maha kuasa atas masalah ataupun keinginan kita.
Rosululloh SAW bersabda :
” Allah berfirman bahwa sesungguhnya Ia (Allah) adalah seperti prasangka hambaku”(shohih Bukhori Muslim) Dari hadist tersebut, kita dapat mengetahui bahwa salah satu syarat bahwa doa kita dikabulkan adalah kita yakin bahwa doa kita dikabulkan. Seperti yang Alloh janjikan :
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa. Apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memnuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada di dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah : 186)
Namun pada dasarnya manusia mudah untuk berputus asa. Sangat naif apabila kita sering berdo’a namun muncul pula pikiran negatif, berprasangka jika do’a kita tidak akan dikabulkan hingga pada akhirnya berputus asa dari rahmat Allah. Padahal jika ditela’ah ayat diatas begitu menjelaskan bahwa Alloh tidak secara langsung menunjukkan jalan keluar setiap persoalan hidup yang dihadapi oleh Umatnya, dari ayat diatas jika penulis menarik suatu pemahaman bahwa Alloh akan mengabulkan do’a seseorang jika dirinya sudah melaksanakan ibadah dengan maksimal dan istiqomah. Pada Sebuah riwayat yang diceritakan oleh Ibn Husain : Alloh berfirman
“Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya dari-Ku?Aku pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap. Andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, Mintalah kepada-Ku! Aku pun lalu memberikan kepada masing-masing, pikiran apa yang terpikir oleh semuanya. Dan semua yang Kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku, meskipun sebesar debu.”
Janji-janji Allah di atas akan terwujud apabila kita melakukan komunikasi dan interaksi dengan Allah. Salah satu bentuk komunikasi dan interaksi dengan Allah tersebut adalah melalui doa. Pada hakikatnya doa adalah penuntun kita untuk mengubah diri. Ini menjadi penting karena hidup kita tidaklah statis, namun senantiasa dinamis, penuh dengan tantangan dan kebutuhan. Tantangan dan kebutuhan merupakan ujian untuk melihat mana hamba yang tetap pada fitrah kesucian dan mana yang tidak.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa siapa pun yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, janganlah lebih dulu memperhatikan apa yang kita minta. Akan tetapi perhatikan apa yang bisa kita ubah dahulu dari diri kita sendiri. Selain sebagai media komunikasi dan interaksi dengan Allah, doa juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri pada Allah. Allah menyediakan berbagai jalan bagi hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.
Ketika kita berdoa, yang paling penting bukanlah ijabahnya doa. Bukan pula datangnya barang yang kita minta, atau lenyapnya kesulitan yang menimpa. Meningkatnya kedekatan diri kita kepada Allah SWT. Justru yang paling penting dari proses doa yang kita lakukan.
Pada akhirnya dalam proses pelaksanaan doa diperlukan interaksi dua arah. Yaitu interaksi kita dengan diri kita melalui introspeksi, dan interaksi kita pada Allah. Kita harus mengkritisi dan mengevaluasi terhadap perilaku kita, sambil kita terus mengikat diri pada Allah. Dengan demikian hakikat doa tidak sekedar mencari kepuasan atas dikabulkannya permintaan kita, tetapi ia berdampak pada kedekatan pada Illahi.
III. URGENSI
Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad saw bersabda :
“Doa merupakan silah (senjata) bagi kaum Mukminin. Juga, do’a adalah inti dari suatu peribadatan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mengapa do’a menjadi senjata dan inti dari peribadatan bagi kaum mukminin?, menurut Said Aqiel Siradj do’a selalu dan ‘lebih’ menekankan pada dimensi spiritual. Dan dimensi spiritualitas dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam.
Kaitannya dengan manusia, maka do’a ‘lebih’ menekankan pada aspek rohani ketimbang aspek jasmani. Berkaitan dengan kehidupan, ia lebih menekankan – kehidupan akhirat – yang lebih baik dan kekal ketimbang dunia yang fana dan relative. Disamping itu, do’a juga lebih menekankan penafsiran batini daripada lahiri.
Maka do’a menjadi begitu penting dalam kehidupan kita, karena setiap orang yang hendak berdo’a, pastilah pertimbangan awalnya adalah mengutamakan nilai-nilai spiritual ketimbang nilai-nilai jasadiyah, memercayai dunia spiritual ketimbang dunia jasmani. Begitupula Alloh. Dia juga bersifat spiritual, ruhani, dan immaterial. Sehingga, orang yang berdo’a menganggap atau berkeyakinan kuat dalam hatinya yang terdalam bahwa, Tuhanlah realitas sejadi; Dia-lah “asal” sekaligus “tempat kembali”. Kepada-Nya semua permohonan mengorientasikan jiwa dan raga mereka. Dia-lah buah kerinduan hatinya. Dan, hanya kepada-Nya semua manusia sepantasnya mengajukan harapan dan permohonan.
Sandaran naqliyyah di atas menantang kita untuk senantiasa tidak bosan-bosan dan malu-malu menyanjungkan permohonan (do’a) kepada-Nya. Melewati sarana do’a inilah, kita mengukuhkan sikap tulus, tawakal (pasrah diri), sabar, wara’i, serta tahapan-tahapan lain dalam perjalanan ruhani seorang sufi. Realitas semacam ini, ditopang pula dengan karakter manusia, sebagai makhluk yang amat membutuhkan pertolongan dari-Nya.
IV. ISTIADZAH
Do’a dalam implementasinya bermakna Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah SWT dari setiap yang jahat. Al-’iyadzah (permohonan pertolongan) dalam usaha menolak kejahatan, sedangkan al-layadzu (permohonan pertolongan) dalam upaya memperoleh kebaikan.
A’udzubillahiminasysyaithonirrajim berarti, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjaka apa yang Dia larang, karena setan itu tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menggoda kecuali Allah.
Oleh karena itu, Allah SWT menyuruh manusia agar menarik dan membujuk hati setan jenis manusia dengan cara menyodorkan suatu yang baik kepadanya supaya dengan demikian dia berubah tabiatnya dari kebiasannya mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari setan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan, sebab tabiatnya jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakannya.
Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat Alquran. Pertama, firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.”
Makna di atas berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.
Kemudian, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200). Berlindung kepada allah maksudnya adalah membaca a’udzubillahiminasysyaithonirrajim.
Dalam surat Al-Mukminun Allah SWT berfirman yang artinya, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mukminun: 96 — 98).
Dan dalam surat Fushshilat ayat 34 — 36 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dalam bahasa Arab, kata syaitan(setan) berasal dari kata syathan, berarti jauh. Jadi, syaitan itu tabiatnya jauh dari tabiat manusia, dan dengan kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan.
Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syata (terbakar), karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama yang lebih benar.
Menurut Sibawaih, bangsa Arab bisa mengatakan tasyaithana fulan, jika fulan itu berbuat seperti perbuatan setan. Jika katasyaitan itu berasal dari kata syatha, tentu mereka mengatakan tasyaith yang berarti jauh. Oleh karena itu, mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan. Berkenaan dengan hal itu Allah berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tia nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang ndah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112).
Dalam buku Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadis dari Abu Dzar ra, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Wahai Abu Dzar, mohonlah engkau kepada Allah perlindungan dari setan-setan dari jenis manusia dan jin.” Lalu kutanyakan, “Apakah ada setan dari jenis manusia?” “Ya,” jawab beliau.
Dalam sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah saw bersabda, “Yang memotong salat itu adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan, “Ya Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing merah atau kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah setan.”
Ar-rojim adalah berwazan fa’il (subjek), tetapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa setan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 5).
V. KESIMPULAN
• Doa merupakan permohonan yang disanjungkan kepada Allah swt secara lisan
• Permohonan yang tidak diungkapkan melalui kalimat-kalimat verbal (verbalize), namun cukup dengan sikap atau kondisi tertentu yang muncul di permukaan. Misal: seorang faqir datang ke hadapan orang kaya (ghani), begitu pula kondisi binatang yang memerlukan makanan. Hal ini bisa dikatan sebagai do’a pula.
• Do’a memiliki dimensi yang amat luas.
• Do’a dalam implementasinya bermakna Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah SWT dari setiap yang jahat.
VI. REFERENSI
1. Dr. Ali Syariati, Makna Doa
2. Al-Bayan, Shohih Bukhori Muslim, Jabal press, 2007
3. Hasbi Al-Shidiqi, Altibi
4. Abdullah Gymnastiar, Hakikat Doa.
5. Said Agil Siraj( Republika,21 November 2007)
6. Tata Sukayat, Quantum do’a
7. Terjemahan Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir,Tafsir Ibnu Katsir, Tim Pustaka Imam as-Syafi’i

